Seringkali seseorang mengalami infeksi saluran kemih berulang, luka yang sulit sembuh, atau demam tanpa penyebab jelas. Banyak yang mengira ini hanyalah infeksi ringan atau flu biasa. Namun, kondisi ini bisa disebabkan oleh Klebsiella pneumoniae, bakteri oportunistik yang tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga organ lain di tubuh, sehingga berpotensi menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat.
Apa Itu Klebsiella pneumoniae Non-Pneumonia?
Klebsiella pneumoniae adalah bakteri Gram-negatif yang umumnya ditemukan di saluran pencernaan manusia. Meski sebagian besar strain berada secara normal tanpa menimbulkan penyakit, bakteri ini bisa menjadi patogen oportunistik. Infeksi non-pneumonia terjadi ketika Klebsiella menyerang organ atau sistem lain, seperti:
- Saluran kemih (infeksi saluran kemih/ISK)
- Aliran darah (bakteremia/sepsis)
- Luka atau jaringan lunak (infeksi luka atau abses)
Infeksi ini biasanya muncul pada orang dengan sistem imun lemah atau pasien yang menjalani perawatan medis invasif.
Penyebab dan Faktor Risiko Klebsiella pneumoniae Non-Pneumonia
Infeksi terjadi ketika bakteri Klebsiella berpindah dari saluran pencernaan ke organ lain. Faktor penyebab dan risiko meliputi:
- Sistem imun lemah akibat penyakit kronis (diabetes, HIV/AIDS) atau usia lanjut.
- Penggunaan kateter, ventilator, atau alat medis invasif lainnya.
- Perawatan rumah sakit yang kurang higienis atau paparan bakteri di fasilitas kesehatan.
- Luka terbuka yang terkontaminasi bakteri.
Gejala-Gejala Klebsiella pneumoniae Non-Pneumonia
Gejala tergantung pada organ yang terinfeksi:
- Saluran kemih: nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil, urine keruh, demam ringan.
- Aliran darah: demam tinggi, menggigil, kelelahan ekstrem, penurunan tekanan darah.
- Luka atau jaringan lunak: bengkak, kemerahan, nyeri, nanah atau cairan keluar dari luka.
- Absces atau organ lain: tergantung lokasi infeksi, bisa menimbulkan nyeri lokal, pembengkakan, dan gangguan fungsi organ.
Proses Diagnosis Klebsiella pneumoniae Non-Pneumonia
Diagnosis dilakukan melalui:
- Kultur mikrobiologi: darah, urine, atau sampel luka untuk mengidentifikasi bakteri.
- Tes sensitivitas antibiotik: menentukan antibiotik yang efektif.
- Pemeriksaan tambahan: USG, CT scan, atau MRI bila infeksi melibatkan organ dalam atau abses.
Pengobatan Klebsiella pneumoniae Non-Pneumonia
Pengobatan fokus pada membasmi bakteri dan mencegah komplikasi:
- Antibiotik: pilihan berdasarkan hasil kultur dan tes sensitivitas, misalnya cephalosporin generasi keempat, carbapenem, atau fluoroquinolone.
- Perawatan luka atau abses: pembersihan dan perawatan rutin, drainase jika diperlukan.
- Perawatan suportif: hidrasi, istirahat, dan monitoring tanda vital.
- Penghentian atau penggantian alat medis: kateter atau ventilator yang terinfeksi harus diganti untuk mencegah penyebaran infeksi.
Pencegahan Klebsiella pneumoniae Non-Pneumonia
Langkah pencegahan meliputi:
- Menjaga kebersihan tangan dan lingkungan, terutama di rumah sakit.
- Sterilisasi peralatan medis dan perawatan luka secara rutin.
- Meminimalkan penggunaan alat medis invasif jika tidak diperlukan.
- Mengelola kondisi medis kronis dengan baik untuk menjaga daya tahan tubuh.
Tips Hidup Sehat untuk Mengurangi Risiko Klebsiella pneumoniae Non-Pneumonia
- Konsumsi makanan bergizi dan cukup cairan untuk menjaga sistem imun.
- Segera periksa ke dokter bila muncul tanda infeksi yang menetap atau memburuk.
- Ajarkan kebiasaan hidup bersih di rumah dan lingkungan kerja.
- Pastikan luka dan perban selalu dalam kondisi bersih dan kering.
Infeksi Klebsiella pneumoniae non-pneumonia adalah infeksi bakteri oportunistik yang dapat menyerang berbagai organ di tubuh selain paru-paru. Deteksi dini, pengobatan berbasis kultur dan sensitivitas antibiotik, serta pencegahan melalui kebersihan dan perawatan medis yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi serius dan menjaga kesehatan jangka panjang.

Baca juga untuk informasi kesehatan lainnya :
https://rumahsakit.uk/infeksi-enterobacter-waspada-bakteri-penyebab-infeksi/



