Kanker Payudara: Peran Deteksi Dini dalam Meningkatkan Peluang Sembuh

0
17

Kanker Payudara: Peran Deteksi Dini dalam Meningkatkan Peluang Sembuh

Pembuka: Keluhan yang Sering Dirasakan Masyarakat

“‘Aku sering merasa nyeri di payudara pas periode haid, tapi pikir itu cuma hal biasa. Sampai satu hari, aku sentuh ada benjolan kecil di bagian dalam payudara yang tidak hilang. Aku takut banget, tapi ragu-ragu ke dokter karena takut dengar kabar buruk. Temanku yang juga punya benjolan tapi langsung diperiksa katanya kanker stadium awal dan udah sembuh. Aku bingung – apa kalau aku pergi lebih awal, situasinya akan berbeda?'”

Keluhan dan keraguan seperti ini adalah pengalaman yang umum di antara wanita. Banyak orang mengabaikan tanda-tanda awal kanker payudara karena mengira itu cuma gejala periode haid atau benjolan tidak berbahaya, sehingga menunda pemeriksaan. Padahal, deteksi dini adalah kunci terpenting untuk meningkatkan peluang sembuh kanker payudara – pasien yang didiagnosis pada stadium awal memiliki peluang sembuh hingga 95%, jauh lebih tinggi dibandingkan yang didiagnosis pada stadium lanjut.

Apa Itu Kanker Payudara?

Kanker payudara adalah penyakit tidak menular yang terjadi ketika sel-sel di payudara tumbuh secara tidak terkendali dan membentuk benjolan (tumour). Sel-sel kanker ini bisa menyebar ke bagian tubuh lain melalui aliran darah atau sistem limfatik, yang disebut metastasis.

Kanker payudara adalah jenis kanker paling umum pada wanita di Indonesia – menurut Kementerian Kesehatan, setiap tahun ada sekitar 50.000 kasus baru dan 20.000 kematian akibat penyakit ini. Meskipun lebih jarang, pria juga bisa menderita kanker payudara (sekitar 1% dari total kasus).

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab Pasti Kanker Payudara:

Penyebab pasti kanker payudara belum diketahui secara penuh. Namun, penyakit ini terkait dengan kombinasi faktor genetik, hormonal, dan gaya hidup yang menyebabkan perubahan pada sel-sel payudara.

Faktor Risiko:

1. Usia – Risiko meningkat seiring bertambahnya usia (sekitar 70% kasus terjadi pada wanita di atas 50 tahun).
2. Riwayat keluarga – Wanita yang memiliki anggota keluarga dekat (ibu, saudara perempuan, atau anak perempuan) yang menderita kanker payudara memiliki risiko lebih tinggi.
3. Faktor hormonal – Mempunyai periode haid yang awal (sebelum usia 12 tahun), periode haid yang akhir (setelah usia 55 tahun), tidak hamil atau hamil pertama kali setelah usia 30 tahun, atau tidak menyusui.
4. Riwayat penyakit payudara – Wanita yang pernah menderita penyakit jinak payudara seperti hiperplasia atau kista memiliki risiko lebih tinggi.
5. Paparan hormon – Mengonsumsi pil KB atau hormon pengganti menopause dalam waktu lama.
6. Gaya hidup – Kelebihan berat badan atau obesitas (terutama setelah menopause), merokok, mengonsumsi alkohol, dan kurangnya aktivitas fisik.
7. Riwayat radiasi – Paparan radiasi pada dada pada usia muda (misalnya karena pengobatan kanker lain).

Gejala Awal yang Perlu Diwaspadai

Gejala kanker payudara bisa bervariasi, dan beberapa pasien bahkan tidak menunjukkan gejala pada stadium awal. Tanda-tanda awal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Benjolan atau ketegangan di payudara atau ketiak yang tidak hilang.
  • Perubahan bentuk, ukuran, atau warna payudara.
  • Perubahan pada puting payudara (misalnya miring ke dalam, keluar cairan yang tidak normal, atau kulit puting yang kering/gatal).
  • Perubahan pada kulit payudara (misalnya seperti kulit jeruk, kemerahan, atau bengkak).
  • Nyeri di payudara atau ketiak yang tidak hilang, bahkan tanpa adanya benjolan.

Perhatian: Banyak benjolan payudara bukanlah kanker (bisa jadi kista atau benjolan jinak), tetapi tetap perlu diperiksa oleh dokter untuk memastikan.

Proses Diagnosis: Peran Deteksi Dini

Deteksi dini meliputi pemeriksaan mandiri, pemeriksaan oleh dokter, dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan sebelum muncul gejala. Proses diagnosis meliputi:

1. Pemeriksaan mandiri payudara (PMP) – Dilakukan sendiri oleh wanita setiap bulan, 1-2 minggu setelah periode haid, untuk mencari benjolan atau perubahan pada payudara. Ini adalah cara termudah untuk mendeteksi tanda-tanda awal.
2. Pemeriksaan oleh dokter – Dokter akan memeriksa payudara dan ketiak untuk mencari benjolan atau perubahan yang tidak normal.
3. Pemeriksaan penunjang –

  • Mamografi – Pemeriksaan rontgen pada payudara yang bisa mendeteksi benjolan yang terlalu kecil untuk disentuh. Direkomendasikan untuk wanita di atas 40 tahun setiap 2 tahun.
  • Ultrasonografi (USG) payudara – Menggunakan gelombang suara untuk melihat struktur dalam payudara, terutama berguna untuk wanita dengan kulit payudara tebal atau di bawah usia 40 tahun.
  • Biopsi – Prosedur pengambilan sampel jaringan payudara untuk diperiksa di laboratorium. Ini adalah tes paling akurat untuk memastikan apakah benjolan itu kanker atau tidak.
  • Tes imunohistokimia – Memeriksa jenis kanker payudara dan keberadaan reseptor hormon (ER, PR) atau protein HER2, yang membantu menentukan pengobatan.

Pilihan Pengobatan

Pengobatan kanker payudara tergantung pada stadium, jenis kanker, dan kondisi pasien. Pada stadium awal, pengobatan biasanya lebih sederhana dan memiliki hasil yang lebih baik:

Pengobatan Medis:

  • Operasi – Pembedahan untuk menghapus benjolan (lumpektomi) atau seluruh payudara (mastektomi). Kadang disertai dengan pembedahan limfatik untuk memeriksa apakah kanker telah menyebar.
  • Radiasi – Penggunaan sinar radiasi untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa setelah operasi.
  • Kemoterapi – Penggunaan obat untuk membunuh sel-sel kanker, bisa diberikan sebelum operasi (neoadjuvan) untuk mengecilkan benjolan atau sesudah operasi (adjuvan) untuk mencegah kekambuhan.
  • Terapi hormon – Digunakan jika kanker merespon hormon, untuk menekan produksi hormon atau mencegah hormon berikatan dengan sel-sel kanker.
  • Terapi target – Obat yang menargetkan sel-sel kanker secara spesifik (misalnya obat untuk kanker HER2 positif).

Pengobatan Mandiri:

  • Ikuti rencana pengobatan dokter – Tetap teratur dalam minum obat atau menghadiri jadwal operasi/radiasi.
  • Jaga kesehatan tubuh – Makan makanan seimbang (sayuran, buah, protein, dan biji-bijian), olahraga secara teratur, dan tidur cukup.
  • Kelola stres – Lakukan aktivitas yang menyenangkan seperti meditasi, dengar musik, atau bertemu teman untuk mengurangi stres.
  • Jelajahi dukungan – Bergabung dengan kelompok dukungan pasien kanker payudara untuk berbagi pengalaman dan mendapatkan dukungan emosional.

Pengobatan Alternatif (Relevan dan Terpercaya):

Pengobatan alternatif bisa membantu mendukung pemulihan dan mengurangi efek samping pengobatan medis, tetapi tidak boleh menggantikan pengobatan utama:

  • Terapi akupuntur – Bisa membantu mengurangi nyeri dan kelelahan akibat kemoterapi.
  • Terapi nutrisi – Konsumsi suplemen tertentu (sesuai anjuran dokter) untuk mendukung kesehatan tubuh.
  • Terapi seni atau musik – Membantu meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi stres.

Pencegahan dan Tips Hidup Sehat: Mendukung Deteksi Dini

Selain deteksi dini, langkah pencegahan berikut bisa menurunkan risiko kanker payudara:

1. Lakukan PMP secara teratur – Setiap bulan setelah periode haid untuk mendeteksi tanda-tanda awal.
2. Ikuti jadwal pemeriksaan rutin – Mamografi setiap 2 tahun untuk wanita di atas 40 tahun, atau lebih sering jika memiliki faktor risiko tinggi.
3. Jaga berat badan ideal – Hindari kelebihan berat badan atau obesitas, terutama setelah menopause.
4. Olahraga secara teratur – Lakukan olahraga ringan seperti jalan cepat, bersepeda, atau yoga selama 30 menit per hari, 5 kali seminggu.
5. Hindari merokok dan alkohol – Merokok dan mengonsumsi alkohol meningkatkan risiko kanker payudara.
6. Diskusikan dengan dokter – Jika memiliki faktor risiko tinggi, diskusikan dengan dokter tentang langkah pencegahan tambahan seperti terapi hormon atau vaksin (jika tersedia).

Jangan lupa follow media sosial kami…

https://www.instagram.com/klinikfakta?igsh=MTU4ZGg1YjVrZHdhYQ==