
Pernahkah Anda atau anggota keluarga mengalami demam disertai munculnya bintik-bintik merah yang sangat gatal di sekujur tubuh? Atau mungkin Anda merasa khawatir ketika anak mulai rewel dan muncul ruam kemerahan yang cepat menyebar? Keluhan seperti ini sangat umum dialami, terutama pada anak-anak, dan sering kali mengarah pada satu diagnosis: cacar air. Meski dianggap sebagai penyakit masa kanak-kanak yang biasa, cacar air tetap perlu diwaspadai karena pada kondisi tertentu dapat menimbulkan komplikasi serius, bahkan mengancam nyawa.
Apa Itu Cacar Air?
Cacar air atau varisela adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. Penyakit ini ditandai dengan munculnya ruam kemerahan berbentuk bintik-bintik yang berisi cairan (vesikel) di seluruh tubuh, disertai rasa gatal yang intens. Cacar air paling sering menyerang anak-anak usia di bawah 12 tahun, namun orang dewasa yang belum pernah terinfeksi atau belum divaksinasi juga dapat tertular.
Penularan cacar air terjadi sangat mudah melalui droplet (percikan ludah) saat penderita batuk atau bersin, serta melalui kontak langsung dengan cairan dari gelembung-gelembung di kulit. Seseorang yang terinfeksi sudah dapat menularkan virus sejak 1-2 hari sebelum ruam muncul hingga semua lesi mengering dan berkerak.
Penyebab dan Faktor Risiko Cacar Air
Penyebab Utama
Seperti yang telah disebutkan, cacar air disebabkan oleh infeksi virus Varicella zoster, yang termasuk dalam kelompok virus herpes. Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus ini tidak benar-benar hilang dari tubuh, tetapi akan “tidur” (dorman) di dalam jaringan saraf. Di kemudian hari, virus yang sama dapat aktif kembali dan menyebabkan herpes zoster (cacar ular atau shingles), terutama pada orang dewasa atau mereka dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Faktor Risiko
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena cacar air antara lain:
Belum pernah terinfeksi atau divaksinasi. Seseorang yang belum memiliki kekebalan terhadap virus Varicella zoster sangat rentan tertular.
Kontak erat dengan penderita. Tinggal serumah atau berada di lingkungan yang sama dengan penderita cacar air meningkatkan risiko penularan hingga 90%.
Usia anak-anak. Meski bisa menyerang segala usia, anak-anak di bawah 12 tahun lebih sering terkena cacar air.
Sistem kekebalan tubuh lemah. Orang dengan HIV/AIDS, penderita kanker, pengguna obat imunosupresan, atau yang menjalani kemoterapi memiliki risiko lebih tinggi mengalami cacar air berat.
Ibu hamil yang belum kebal. Cacar air pada ibu hamil dapat membahayakan janin dan menyebabkan komplikasi pada bayi.
Gejala-Gejala Cacar Air
Gejala cacar air biasanya muncul 10-21 hari setelah terpapar virus (masa inkubasi). Penyakit ini berkembang melalui beberapa tahap:
Gejala Awal (Prodromal)
Sebelum ruam muncul, penderita dapat mengalami:
- Demam ringan hingga sedang (37,5-39°C)
- Nyeri kepala
- Hilang nafsu makan
- Lemas dan tidak bertenaga
- Nyeri otot atau sendi
- Batuk dan pilek ringan
Gejala Khas: Ruam Kulit
Ruam cacar air memiliki ciri khas yang berkembang dalam beberapa tahap:
Tahap bintik merah (makula). Muncul bintik-bintik merah kecil yang rata dengan permukaan kulit.
Tahap benjolan (papula). Bintik merah menonjol menjadi benjolan kecil dalam beberapa jam.
Tahap gelembung berisi cairan (vesikel). Benjolan berubah menjadi gelembung kecil berisi cairan bening yang sangat gatal.
Tahap pecah dan berkerak. Gelembung pecah, mengering, dan membentuk kerak dalam 1-2 hari.
Ciri khas cacar air adalah munculnya ruam dalam “gelombang”, sehingga pada satu waktu dapat ditemukan berbagai tahap ruam sekaligus di tubuh penderita. Ruam dapat muncul di seluruh tubuh, termasuk wajah, kulit kepala, mulut, dan bahkan area genital.
Tingkat Keparahan Gejala
Pada anak-anak yang sehat, cacar air umumnya bersifat ringan dengan 200-500 lesi. Namun pada orang dewasa, remaja, atau mereka dengan sistem imun lemah, gejala cenderung lebih berat dengan jumlah lesi yang lebih banyak dan risiko komplikasi yang lebih tinggi.
Diagnosis Cacar Air
Pemeriksaan Klinis
Diagnosis cacar air umumnya dapat ditegakkan melalui pemeriksaan fisik oleh dokter. Ruam yang khas dengan berbagai tahap perkembangan secara bersamaan, disertai riwayat kontak dengan penderita, sudah cukup untuk menegakkan diagnosis.
Pemeriksaan Penunjang
Pada kasus-kasus tertentu, terutama jika diagnosis masih meragukan atau pada pasien dengan kondisi khusus, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan tambahan:
Tes Tzanck. Pemeriksaan mikroskopis dari cairan vesikel untuk mendeteksi sel-sel khas infeksi virus herpes.
Tes PCR (Polymerase Chain Reaction). Pemeriksaan untuk mendeteksi DNA virus Varicella zoster, memberikan hasil yang sangat akurat.
Tes antibodi. Pemeriksaan darah untuk mendeteksi antibodi IgM (infeksi akut) atau IgG (infeksi lampau atau kekebalan).
Kultur virus. Pemeriksaan laboratorium untuk menumbuhkan virus dari sampel cairan vesikel, meski jarang dilakukan karena membutuhkan waktu lama.
Pilihan Pengobatan Cacar Air
Pengobatan Medis
Meski sebagian besar kasus cacar air dapat sembuh sendiri dalam 1-2 minggu, pengobatan dapat membantu meredakan gejala dan mencegah komplikasi:
Obat antivirus. Acyclovir, valacyclovir, atau famciclovir dapat diberikan untuk mengurangi keparahan dan durasi penyakit, terutama pada orang dewasa, remaja, bayi, ibu hamil, atau penderita dengan sistem imun lemah. Obat ini paling efektif jika diberikan dalam 24 jam pertama sejak ruam muncul.
Obat penurun demam. Paracetamol dapat digunakan untuk menurunkan demam dan mengurangi nyeri. Hindari pemberian aspirin pada anak-anak dengan cacar air karena dapat meningkatkan risiko sindrom Reye, kondisi serius yang menyerang hati dan otak.
Antihistamin. Obat seperti diphenhydramine atau cetirizine dapat membantu mengurangi rasa gatal.
Antibiotik. Hanya diberikan jika terjadi infeksi bakteri sekunder pada lesi kulit yang digaruk.
Perawatan Mandiri di Rumah
Perawatan di rumah sangat penting untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah komplikasi:
Istirahat yang cukup. Berikan waktu bagi tubuh untuk melawan infeksi dengan istirahat yang memadai.
Jaga kebersihan kulit. Mandi dengan air hangat dapat membantu meredakan gatal. Gunakan sabun lembut dan keringkan tubuh dengan menepuk-nepuk, bukan menggosok.
Kompres dingin. Kompres area yang gatal dengan kain bersih yang dibasahi air dingin untuk meredakan gatal.
Potong kuku. Jaga kuku tetap pendek dan bersih untuk mengurangi kerusakan kulit akibat garukan dan mencegah infeksi bakteri.
Gunakan pakaian longgar. Pilih pakaian berbahan lembut dan longgar untuk menghindari iritasi pada kulit.
Calamine lotion. Oleskan lotion calamine pada ruam untuk membantu meredakan gatal.
Hindari menggaruk. Meski sulit, usahakan untuk tidak menggaruk lesi karena dapat menyebabkan jaringan parut dan infeksi bakteri.
Konsumsi makanan lunak. Jika terdapat lesi di mulut, konsumsi makanan yang lembut dan hindari makanan asam, pedas, atau terlalu panas.
Perbanyak minum. Konsumsi cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi, terutama jika disertai demam.
Pengobatan Alternatif dan Komplementer
Beberapa pendekatan alternatif yang dapat membantu meredakan gejala (sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu):
Mandi oatmeal. Merendam tubuh dalam air yang dicampur oatmeal koloid dapat membantu menenangkan kulit yang gatal.
Madu. Madu murni memiliki sifat antibakteri dan dapat dioleskan pada lesi untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah infeksi.
Teh chamomile. Kompres dengan teh chamomile dingin dapat membantu meredakan gatal dan peradangan.
Minyak kelapa. Dapat dioleskan pada kulit untuk melembapkan dan mengurangi rasa tidak nyaman.
Komplikasi yang Perlu Diwaspadai
Meski umumnya ringan pada anak-anak yang sehat, cacar air dapat menyebabkan komplikasi serius pada kondisi tertentu:
Infeksi bakteri sekunder. Lesi yang digaruk dapat terinfeksi bakteri seperti Staphylococcus atau Streptococcus, menyebabkan selulitis, abses, atau bahkan sepsis.
Pneumonia. Infeksi paru-paru akibat virus Varicella zoster lebih sering terjadi pada orang dewasa, ibu hamil, dan penderita dengan sistem imun lemah.
Ensefalitis. Peradangan otak yang dapat menyebabkan gangguan kesadaran, kejang, dan komplikasi neurologis jangka panjang.
Sindrom Reye. Gangguan hati dan otak yang jarang namun serius, terutama terkait penggunaan aspirin pada anak-anak dengan cacar air.
Komplikasi pada kehamilan. Cacar air pada ibu hamil dapat menyebabkan sindrom varisela kongenital pada janin (kelainan pada mata, anggota gerak, kulit, dan sistem saraf) atau pneumonia berat pada ibu.
Ataksia serebelar. Gangguan koordinasi gerakan yang biasanya bersifat sementara.
Jaringan parut permanen. Terutama jika lesi digaruk atau terinfeksi bakteri.
Pencegahan Cacar Air
Vaksinasi
Cara paling efektif untuk mencegah cacar air adalah melalui vaksinasi. Vaksin varisela memberikan perlindungan hingga 90% terhadap infeksi dan hampir 100% terhadap penyakit berat.
Jadwal vaksinasi. Vaksin varisela direkomendasikan untuk anak usia 12-15 bulan dengan dosis penguat pada usia 4-6 tahun. Orang dewasa yang belum pernah terkena cacar air atau belum divaksinasi juga dapat menerima vaksin dengan dua dosis yang berjarak 4-8 minggu.
Efek samping vaksin. Umumnya ringan, seperti nyeri di tempat suntikan, demam ringan, atau ruam ringan. Efek samping serius sangat jarang terjadi.
Kontraindikasi. Vaksin tidak dianjurkan untuk ibu hamil, penderita dengan sistem imun sangat lemah, atau mereka yang alergi terhadap komponen vaksin.
Langkah Pencegahan Lainnya
Isolasi penderita. Penderita cacar air sebaiknya diisolasi di rumah hingga semua lesi mengering dan berkerak (biasanya 5-7 hari setelah ruam muncul) untuk mencegah penularan.
Hindari kontak dengan kelompok berisiko. Jauhkan penderita dari bayi baru lahir, ibu hamil, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Kebersihan tangan. Cuci tangan secara teratur dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah menyentuh lesi atau benda yang terpapar penderita.
Jangan berbagi barang pribadi. Hindari berbagi handuk, pakaian, atau barang pribadi lainnya dengan penderita.
Imunisasi pasca pajanan. Jika Anda terpapar virus cacar air namun belum pernah terinfeksi atau divaksinasi, vaksinasi dalam 3-5 hari setelah pajanan dapat mencegah atau meringankan penyakit.
Immunoglobulin. Untuk kelompok berisiko tinggi yang terpapar virus namun tidak dapat divaksinasi, dokter dapat memberikan varicella-zoster immune globulin (VZIG) untuk perlindungan sementara.
Tips Hidup Sehat untuk Mencegah Infeksi
Selain vaksinasi dan langkah pencegahan spesifik, menjaga kesehatan secara umum dapat membantu tubuh melawan infeksi:
Konsumsi makanan bergizi seimbang. Perbanyak buah, sayuran, protein, dan biji-bijian untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Olahraga teratur. Aktivitas fisik moderat dapat meningkatkan fungsi imun dan kesehatan secara keseluruhan.
Tidur cukup. Tidur 7-9 jam per malam untuk orang dewasa dan lebih lama untuk anak-anak membantu tubuh memulihkan dan memperkuat sistem imun.
Kelola stres. Stres kronis dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga penting untuk mengelola stres dengan baik melalui meditasi, hobi, atau aktivitas yang menyenangkan.
Jaga kebersihan lingkungan. Bersihkan dan disinfeksi permukaan yang sering disentuh secara teratur.
Hindari merokok dan konsumsi alkohol berlebihan. Kedua kebiasaan ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasikan dengan dokter jika Anda atau anggota keluarga mengalami:
- Demam tinggi yang tidak turun dengan obat penurun panas atau berlangsung lebih dari 4 hari
- Ruam yang terasa sangat nyeri, kemerahan, hangat, atau mengeluarkan nanah (tanda infeksi bakteri)
- Kesulitan bernapas atau batuk yang memburuk
- Muntah berulang atau sakit kepala berat
- Kebingungan, disorientasi, atau kejang
- Kaku leher
- Ruam yang menyebar ke mata atau menyebabkan gangguan penglihatan
- Cacar air pada bayi di bawah 1 tahun, ibu hamil, atau orang dengan sistem imun lemah
Kesimpulan
Cacar air memang umumnya merupakan penyakit ringan yang dapat sembuh sendiri, terutama pada anak-anak yang sehat. Namun, penting untuk diingat bahwa pada kondisi tertentu, cacar air dapat berkembang menjadi penyakit serius dengan komplikasi yang mengancam nyawa. Vaksinasi tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah penyakit ini.
Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala cacar air, lakukan perawatan mandiri dengan tepat, perhatikan tanda-tanda komplikasi, dan jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter ketika diperlukan. Dengan penanganan yang tepat dan pencegahan yang optimal, cacar air dapat dikelola dengan baik tanpa meninggalkan dampak jangka panjang.
Ingatlah bahwa kesehatan adalah investasi terbaik. Lindungi diri dan keluarga Anda dengan vaksinasi dan gaya hidup sehat untuk mencegah berbagai penyakit menular, termasuk cacar air.
Jangan lupa follow media sosial kami:
https://www.instagram.com/klinikfakta?igsh=MTU4ZGg1YjVrZHdhYQ==



