- Advertisement -Newspaper WordPress Theme
Penyakit MenularHepatitis E: Penyakit Menular Lewat Air yang Jarang Dibahas

Hepatitis E: Penyakit Menular Lewat Air yang Jarang Dibahas

Pernahkah Anda mengalami gejala seperti mual berkepanjangan, warna urine yang tiba-tiba menjadi sangat gelap seperti teh pekat, atau mata dan kulit yang menguning tanpa sebab jelas? Keluhan-keluhan ini mungkin terdengar familiar sebagai tanda penyakit liver, namun tidak semua orang menyadari bahwa ini bisa jadi merupakan gejala hepatitis E—sebuah penyakit hati menular yang sering kali diabaikan karena kurangnya informasi di masyarakat. Berbeda dengan hepatitis A atau B yang sudah lebih dikenal, hepatitis E justru menjadi ancaman tersembunyi, terutama di daerah dengan sanitasi air yang buruk. Padahal, penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi serius, bahkan fatal pada kelompok rentan seperti ibu hamil.

Apa Itu Hepatitis E?

Hepatitis E adalah infeksi hati akut yang disebabkan oleh virus hepatitis E (HEV). Virus ini termasuk dalam kelompok virus RNA yang menyerang sel-sel hati dan menyebabkan peradangan atau inflamasi pada organ tersebut. Hepatitis E tergolong penyakit yang bersifat self-limiting, artinya sebagian besar kasus dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu tanpa pengobatan khusus.

Namun demikian, pada kondisi tertentu—terutama pada ibu hamil, orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, atau penderita penyakit hati kronis—hepatitis E dapat berkembang menjadi hepatitis fulminan, yaitu kondisi gagal hati akut yang berpotensi mengancam jiwa.

Hepatitis E banyak ditemukan di negara-negara berkembang dengan akses air bersih yang terbatas, termasuk di beberapa wilayah Indonesia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan terdapat sekitar 20 juta infeksi hepatitis E setiap tahunnya di seluruh dunia, dengan angka kematian mencapai 44.000 kasus per tahun.

Penyebab dan Faktor Risiko Hepatitis E

Penyebab Utama

Hepatitis E disebabkan oleh infeksi virus hepatitis E (HEV) yang memiliki empat genotipe utama (HEV-1, HEV-2, HEV-3, dan HEV-4). Genotipe 1 dan 2 ditemukan terutama pada manusia dan menyebar melalui air yang terkontaminasi, sementara genotipe 3 dan 4 dapat menginfeksi manusia melalui hewan (zoonosis), terutama babi, rusa, dan kerang mentah.

Penularan virus hepatitis E paling sering terjadi melalui jalur fekal-oral, yaitu ketika seseorang mengonsumsi makanan atau air yang telah terkontaminasi oleh feses penderita hepatitis E. Cara penularan ini mirip dengan hepatitis A.

Faktor Risiko

Beberapa kondisi dan kebiasaan yang meningkatkan risiko seseorang tertular hepatitis E meliputi:

Sanitasi dan Kebersihan Buruk Tinggal atau bepergian ke daerah dengan sistem sanitasi yang tidak memadai, terutama di daerah dengan kontaminasi air minum oleh limbah, menjadi faktor risiko utama penularan hepatitis E.

Konsumsi Makanan dan Air Terkontaminasi Mengonsumsi air yang tidak dimasak dengan baik, es batu dari air yang tidak bersih, atau makanan mentah seperti kerang dan daging babi yang kurang matang dapat meningkatkan risiko infeksi.

Kehamilan Ibu hamil, terutama pada trimester kedua dan ketiga, memiliki risiko sangat tinggi mengalami komplikasi serius akibat hepatitis E, dengan angka kematian mencapai 15-25% pada kasus tertentu.

Kondisi Imunosupresi Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penerima transplantasi organ, penderita HIV/AIDS, atau yang menjalani kemoterapi, lebih rentan mengalami infeksi hepatitis E kronis.

Penyakit Hati yang Sudah Ada Penderita hepatitis B atau C kronis, sirosis hati, atau penyakit hati lainnya berisiko mengalami perburukan kondisi jika terinfeksi hepatitis E.

Gejala-Gejala Hepatitis E

Masa inkubasi virus hepatitis E berkisar antara 2 hingga 10 minggu setelah paparan, dengan rata-rata 5-6 minggu. Tidak semua orang yang terinfeksi menunjukkan gejala; banyak kasus bersifat asimtomatik, terutama pada anak-anak.

Gejala Awal (Fase Prodromal)

Pada tahap awal infeksi, penderita mungkin mengalami gejala yang mirip dengan flu atau gangguan pencernaan, seperti:

  • Demam ringan hingga sedang
  • Kelelahan dan lemas yang tidak biasa
  • Hilang nafsu makan
  • Mual dan muntah
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas kanan (area hati)
  • Nyeri sendi dan otot
  • Sakit kepala

Gejala Lanjutan (Fase Ikterik)

Setelah beberapa hari hingga satu minggu, gejala dapat berkembang menjadi lebih spesifik, menandakan peradangan hati yang lebih jelas:

  • Jaundice (kuning): Kulit dan bagian putih mata (sklera) berubah warna menjadi kuning akibat penumpukan bilirubin
  • Urine berwarna gelap: Seperti teh pekat atau cola, menandakan peningkatan kadar bilirubin dalam urine
  • Feses berwarna pucat: Tinja menjadi lebih terang atau keabu-abuan
  • Gatal-gatal pada kulit: Akibat penumpukan garam empedu
  • Pembesaran hati: Hati dapat teraba membesar dan terasa nyeri saat ditekan

Gejala Komplikasi Serius

Pada kasus yang berat, terutama pada kelompok berisiko tinggi, dapat muncul tanda-tanda gagal hati akut (hepatitis fulminan):

  • Kebingungan atau perubahan kesadaran
  • Mudah mengalami perdarahan atau memar
  • Penumpukan cairan di perut (asites)
  • Penurunan produksi urine
  • Sesak napas

Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala-gejala tersebut, terutama setelah bepergian ke daerah endemis atau mengonsumsi makanan/air yang mencurigakan, segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Proses Diagnosis Hepatitis E

Diagnosis hepatitis E memerlukan kombinasi evaluasi klinis, riwayat medis, dan pemeriksaan penunjang laboratorium. Berikut adalah tahapan diagnosis yang umumnya dilakukan:

Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

Dokter akan menanyakan riwayat keluhan, perjalanan ke daerah endemis, konsumsi makanan mentah atau air yang tidak terjamin kebersihannya, serta riwayat kontak dengan penderita hepatitis. Pemeriksaan fisik meliputi pengecekan kulit dan mata untuk tanda jaundice, palpasi perut untuk mendeteksi pembesaran hati, serta penilaian kondisi umum pasien.

Pemeriksaan Laboratorium Darah

Tes Fungsi Hati Pemeriksaan kadar enzim hati seperti ALT (alanine aminotransferase) dan AST (aspartate aminotransferase) akan menunjukkan peningkatan yang signifikan pada kasus hepatitis E. Kadar bilirubin juga akan meningkat, menjelaskan terjadinya jaundice.

Tes Serologi untuk Antibodi HEV Diagnosis pasti hepatitis E ditegakkan dengan mendeteksi antibodi IgM anti-HEV dalam darah. Antibodi IgM menunjukkan infeksi akut yang sedang berlangsung, sementara antibodi IgG anti-HEV menandakan infeksi yang sudah pernah terjadi atau kekebalan terhadap virus.

Tes PCR (Polymerase Chain Reaction) Pemeriksaan RNA virus hepatitis E melalui metode PCR dapat dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis, terutama pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh lemah atau kasus yang meragukan.

Pemeriksaan Penunjang Lainnya

Dalam kasus tertentu, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan tambahan seperti:

  • USG (ultrasonografi) abdomen: Untuk menilai kondisi hati, limpa, dan saluran empedu
  • Tes pembekuan darah: Untuk mengevaluasi fungsi sintesis hati
  • Pemeriksaan virus hepatitis lain: Untuk menyingkirkan kemungkinan hepatitis A, B, atau C

Pilihan Pengobatan Hepatitis E

Pengobatan Medis

Sebagian besar kasus hepatitis E bersifat akut dan dapat sembuh sendiri tanpa memerlukan pengobatan khusus. Namun, pendekatan medis tetap diperlukan untuk mengelola gejala dan mencegah komplikasi.

Perawatan Suportif Ini merupakan pilar utama penanganan hepatitis E, meliputi:

  • Istirahat cukup: Membatasi aktivitas fisik untuk memberikan waktu tubuh pulih
  • Hidrasi adekuat: Minum air putih yang cukup untuk mencegah dehidrasi, terutama jika mengalami muntah
  • Nutrisi seimbang: Konsumsi makanan bergizi dengan porsi kecil namun sering, hindari makanan berlemak tinggi yang dapat membebani hati
  • Monitoring ketat: Pemeriksaan berkala fungsi hati dan kondisi klinis

Terapi Antiviral Pada kasus hepatitis E kronis (terutama pada pasien imunosupresi), dokter dapat meresepkan obat antiviral seperti ribavirin untuk membantu mengatasi infeksi. Namun, penggunaan obat ini harus di bawah pengawasan ketat dokter karena potensi efek samping.

Penanganan Komplikasi Pasien dengan hepatitis fulminan atau gagal hati akut memerlukan perawatan intensif di rumah sakit, bahkan transplantasi hati dalam kasus yang sangat berat.

Pengobatan Mandiri di Rumah

Selama masa pemulihan, beberapa langkah perawatan mandiri dapat membantu mempercepat kesembuhan:

  • Hindari alkohol sepenuhnya: Alkohol dapat memperburuk kerusakan hati
  • Hentikan obat-obatan yang tidak perlu: Konsultasikan dengan dokter mengenai obat-obatan yang sedang dikonsumsi, karena beberapa dapat membebani hati
  • Jaga kebersihan diri: Cuci tangan dengan sabun secara teratur untuk mencegah penularan ke orang lain
  • Gunakan peralatan makan terpisah: Meski penularan lewat peralatan makan jarang terjadi, sebaiknya tetap berhati-hati
  • Istirahat yang cukup: Tidur minimal 7-8 jam sehari dan hindari stres berlebihan

Kapan Harus ke Dokter

Segera cari pertolongan medis jika mengalami:

  • Muntah yang terus-menerus sehingga tidak bisa makan atau minum
  • Kebingungan atau perubahan perilaku
  • Nyeri perut yang hebat
  • Gejala dehidrasi (jarang buang air kecil, lemas berat)
  • Perdarahan yang tidak biasa
  • Kesulitan bernapas

Pencegahan Hepatitis E

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Berikut adalah langkah-langkah komprehensif untuk melindungi diri dari infeksi hepatitis E:

Praktik Kebersihan dan Sanitasi

Konsumsi Air Bersih

  • Pastikan air minum sudah dimasak hingga mendidih, terutama saat berada di daerah dengan sanitasi buruk
  • Gunakan air kemasan terpercaya saat bepergian
  • Hindari es batu yang dibuat dari air tidak terjamin kebersihannya
  • Gunakan air matang untuk menyikat gigi

Kebersihan Makanan

  • Cuci buah dan sayuran dengan air mengalir yang bersih
  • Masak daging, terutama daging babi dan hati, hingga benar-benar matang (suhu internal minimal 71°C)
  • Hindari konsumsi kerang mentah atau setengah matang
  • Pilih tempat makan dengan standar kebersihan yang baik

Hygiene Pribadi

  • Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama:
    • Sebelum makan dan menyiapkan makanan
    • Setelah menggunakan toilet
    • Setelah mengganti popok atau merawat orang sakit
    • Setelah menyentuh hewan
  • Gunakan hand sanitizer berbasis alkohol jika sabun dan air tidak tersedia

Vaksinasi

Saat ini, vaksin hepatitis E (HEV 239/Hecolin) sudah tersedia dan disetujui untuk digunakan di beberapa negara tertentu, meskipun belum tersedia secara luas di Indonesia. Vaksin ini terbukti efektif untuk mencegah infeksi, terutama bagi orang yang berisiko tinggi atau akan bepergian ke daerah endemis.

Perhatian Khusus untuk Kelompok Berisiko

Ibu Hamil

  • Hindari bepergian ke daerah dengan wabah hepatitis E jika memungkinkan
  • Extra hati-hati dengan kebersihan makanan dan air
  • Konsultasi rutin dengan dokter kandungan

Orang dengan Penyakit Hati Kronis

  • Lakukan vaksinasi jika tersedia dan direkomendasikan dokter
  • Hindari paparan terhadap sumber infeksi potensial
  • Pemeriksaan kesehatan berkala

Pelancong

  • Pelajari kondisi sanitasi daerah tujuan
  • Bawa persediaan air minum kemasan
  • Hindari jajanan pinggir jalan yang tidak terjamin kebersihannya
  • Pertimbangkan vaksinasi sebelum bepergian

Peran Masyarakat dan Pemerintah

Pencegahan hepatitis E juga memerlukan upaya kolektif:

  • Peningkatan akses terhadap air bersih dan sanitasi layak
  • Edukasi masyarakat tentang pentingnya hygiene
  • Sistem pengolahan limbah yang memadai
  • Pengawasan keamanan pangan, terutama produk hewani
  • Program vaksinasi di daerah berisiko tinggi

Tips Hidup Sehat untuk Menjaga Kesehatan Hati

Selain pencegahan spesifik terhadap hepatitis E, menjaga kesehatan hati secara umum sangat penting untuk kualitas hidup jangka panjang:

Pola Makan Sehat

  • Konsumsi makanan kaya antioksidan seperti buah-buahan berwarna cerah, sayuran hijau, dan kacang-kacangan
  • Batasi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, gula, dan garam
  • Pilih sumber protein berkualitas seperti ikan, ayam tanpa kulit, dan kacang-kacangan
  • Konsumsi serat yang cukup dari biji-bijian utuh, sayur, dan buah

Aktivitas Fisik Teratur

  • Lakukan olahraga aerobik minimal 150 menit per minggu (misalnya jalan cepat, bersepeda, berenang)
  • Latihan kekuatan otot 2-3 kali seminggu
  • Hindari gaya hidup sedentari (terlalu banyak duduk)

Kelola Berat Badan

Pertahankan berat badan ideal sesuai indeks massa tubuh (IMT) yang sehat, karena obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit hati berlemak yang dapat memperburuk dampak infeksi hepatitis.

Batasi Zat Berbahaya

  • Hindari atau batasi konsumsi alkohol secara ketat
  • Jangan menggunakan narkoba, terutama yang disuntikkan
  • Hindari paparan terhadap bahan kimia hepatotoksik (racun hati) tanpa pelindung yang memadai

Pemeriksaan Kesehatan Rutin

Lakukan medical check-up secara berkala, termasuk pemeriksaan fungsi hati, terutama jika memiliki faktor risiko penyakit hati. Deteksi dini masalah kesehatan memungkinkan penanganan yang lebih efektif.

Kelola Stres

Stres kronis dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan kesehatan hati secara tidak langsung. Praktikkan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau hobi yang menyenangkan untuk mengelola stres.

Kesimpulan

Hepatitis E mungkin belum sepopuler hepatitis A atau B dalam perbincangan kesehatan masyarakat, namun dampaknya tidak bisa dianggap remeh. Penyakit menular lewat air ini dapat dicegah dengan praktik kebersihan yang baik, terutama dalam hal konsumsi air dan makanan. Meskipun sebagian besar kasus dapat sembuh sendiri, kelompok berisiko seperti ibu hamil dan orang dengan sistem kekebalan lemah memerlukan perhatian khusus.

Kesadaran tentang hepatitis E, cara penularan, gejala, serta langkah pencegahannya adalah kunci untuk melindungi diri dan keluarga dari penyakit ini. Jika Anda mengalami gejala yang mencurigakan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Ingat, kesehatan hati adalah investasi berharga untuk kehidupan yang lebih berkualitas.

Dengan menerapkan pola hidup sehat, menjaga kebersihan, dan meningkatkan kesadaran akan risiko penyakit menular, kita bersama-sama dapat menekan angka kejadian hepatitis E dan penyakit-penyakit serupa lainnya di Indonesia.


Jangan lupa follow media sosial kami:

https://www.instagram.com/klinikfakta?igsh=MTU4ZGg1YjVrZHdhYQ==

Subscribe Today

GET EXCLUSIVE FULL ACCESS TO PREMIUM CONTENT

SUPPORT NONPROFIT JOURNALISM

EXPERT ANALYSIS OF AND EMERGING TRENDS IN CHILD WELFARE AND JUVENILE JUSTICE

TOPICAL VIDEO WEBINARS

Get unlimited access to our EXCLUSIVE Content and our archive of subscriber stories.

Exclusive content

- Advertisement -Newspaper WordPress Theme

Latest article

More article

- Advertisement -Newspaper WordPress Theme