- Advertisement -Newspaper WordPress Theme
Penyakit MenularCacar Air pada Anak dan Dewasa: Gejala yang Sering Diremehkan

Cacar Air pada Anak dan Dewasa: Gejala yang Sering Diremehkan

Hampir setiap orang punya kenangan tentang cacar air — entah itu kenangan sendiri ketika kecil, atau kenangan melihat anak atau adik yang tiba-tiba berbintil-bintil di sekujur tubuh, rewel, dan tidak bisa tidur karena gatal yang luar biasa. Banyak yang menganggapnya sebagai “penyakit wajib” yang harus dilalui setiap anak, sesuatu yang ringan dan pasti sembuh sendiri.

Sebagian anggapan itu tidak salah — pada anak yang sehat, cacar air memang sering kali berlangsung relatif ringan dan sembuh dalam waktu dua minggu. Tapi ada bagian dari anggapan itu yang perlu diluruskan, karena cacar air tidak selalu sesederhana yang dibayangkan.

Pada orang dewasa yang belum pernah terinfeksi sebelumnya, pada ibu hamil, pada bayi baru lahir, pada lansia, dan pada mereka dengan sistem kekebalan yang lemah — cacar air bisa berkembang menjadi kondisi yang jauh lebih serius dan bahkan mengancam jiwa. Dan bahkan pada anak-anak yang sehat sekalipun, ada komplikasi yang bisa terjadi kalau kondisi ini tidak ditangani dengan benar.

Artikel ini hadir untuk memberikan gambaran yang lengkap dan jujur tentang cacar air — bukan untuk membuat panik, tapi untuk memastikan kamu punya informasi yang benar-benar tepat tentang kapan perlu waspada dan apa yang harus dilakukan.


Apa Itu Cacar Air?

Cacar air — dalam bahasa medis disebut varisela — adalah infeksi yang disebabkan oleh virus Varicella-Zoster atau VZV. Virus ini termasuk dalam keluarga virus herpes, meskipun berbeda dari virus yang menyebabkan herpes genital atau herpes oral yang umum dikenal.

Yang membuat cacar air begitu mudah menyebar adalah kemampuan penularannya yang sangat tinggi. Virus varisela adalah salah satu patogen paling menular yang dikenal — satu penderita cacar air yang aktif bisa menularkan infeksi kepada hampir semua orang yang berada di sekitarnya dan belum pernah terinfeksi atau belum mendapat perlindungan.

Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tidak benar-benar hilang dari tubuh. Ia bersembunyi dalam jaringan saraf dan bisa aktif kembali bertahun-tahun atau puluhan tahun kemudian dalam bentuk yang berbeda — penyakit yang dikenal sebagai herpes zoster atau cacar ular. Ini adalah karakteristik unik yang membedakan virus varisela dari banyak virus lainnya.


Bagaimana Cacar Air Menular?

Cacar air adalah salah satu penyakit menular yang paling efisien dalam hal penyebarannya. Memahami jalur penularannya adalah kunci untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.

Melalui udara adalah jalur penularan yang paling efisien. Ketika penderita cacar air batuk, bersin, atau bahkan hanya berbicara, partikel-partikel kecil yang mengandung virus terlepas ke udara dan bisa terhirup oleh orang lain di sekitarnya. Di ruangan tertutup, partikel ini bisa bertahan cukup lama dan menjangkau orang-orang yang bahkan tidak berada langsung di dekat penderita.

Kontak langsung dengan cairan dari lepuhan adalah jalur penularan yang juga sangat efisien. Lepuhan cacar air mengandung virus dalam konsentrasi yang sangat tinggi. Menyentuh cairan yang bocor dari lepuhan yang pecah dan kemudian menyentuh wajah — terutama hidung, mulut, atau mata — adalah jalur penularan yang umum terjadi.

Kontak dengan benda yang terkontaminasi — seperti pakaian, handuk, atau sprei yang terkena cairan dari lepuhan — meskipun risikonya lebih rendah dibanding dua jalur di atas, juga bisa menjadi jalur penularan.

Yang perlu diketahui adalah penderita cacar air sudah menular sejak satu hingga dua hari sebelum ruam pertama muncul hingga semua lepuhan sudah mengering dan mengeras. Ini berarti seseorang bisa menularkan cacar air kepada orang lain bahkan sebelum ia sendiri menyadari bahwa ia sedang sakit.


Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab cacar air adalah virus Varicella-Zoster yang sudah jelas. Namun ada beberapa faktor yang menentukan seberapa besar risiko seseorang untuk terinfeksi dan seberapa serius kondisi yang akan dialami.

Belum pernah terinfeksi cacar air sebelumnya adalah faktor risiko yang paling utama. Seseorang yang pernah mengalami cacar air biasanya mendapat kekebalan seumur hidup terhadap infeksi ulang — meskipun ada kasus reinfeksi yang sangat jarang, terutama pada orang dengan kekebalan yang sangat lemah.

Usia memainkan peran penting dalam menentukan keparahan kondisi. Bayi di bawah satu tahun yang lahir dari ibu yang tidak memiliki kekebalan terhadap varisela sangat rentan. Anak-anak antara usia satu hingga dua belas tahun adalah kelompok yang paling sering terinfeksi, namun biasanya mengalami kondisi yang paling ringan. Remaja dan orang dewasa yang belum pernah terinfeksi justru berisiko mengalami gejala yang jauh lebih berat. Lansia di atas 60 tahun berisiko tinggi untuk mengalami komplikasi serius.

Ibu hamil yang belum pernah mengalami cacar air menghadapi risiko yang sangat serius — baik untuk dirinya sendiri maupun untuk janin yang dikandungnya. Infeksi cacar air selama kehamilan bisa menyebabkan komplikasi serius pada janin jika terjadi di trimester pertama atau kedua, dan bisa menyebabkan kondisi yang sangat berbahaya pada bayi baru lahir jika infeksi terjadi dalam lima hari sebelum atau dua hari setelah persalinan.

Sistem kekebalan yang lemah — karena penyakit seperti HIV, kanker, atau penggunaan obat-obatan yang menekan sistem kekebalan — membuat seseorang sangat rentan terhadap cacar air yang berat dan komplikasinya.

Kontak erat dengan penderita di lingkungan sekolah, tempat penitipan anak, atau rumah tangga sangat meningkatkan risiko penularan.


Gejala Cacar Air: Lebih dari Sekadar Bintil-Bintil

Banyak orang hanya mengasosiasikan cacar air dengan ruam dan bintil-bintil gatal. Padahal perjalanan penyakit ini lebih kompleks dan memiliki beberapa fase yang masing-masing memiliki karakteristiknya sendiri.

Fase Prodromal — Satu hingga Dua Hari Sebelum Ruam Muncul

Sebelum ruam khas muncul, penderita biasanya mengalami gejala-gejala awal yang mirip flu — demam yang berkisar antara 37,5 hingga 39 derajat Celsius, sakit kepala, kelelahan dan rasa tidak enak badan, kehilangan nafsu makan, dan pada anak-anak kecil sering kali rewel yang tidak seperti biasanya. Pada orang dewasa, fase prodromal ini cenderung lebih berat dan lebih lama dibanding pada anak-anak.

Munculnya Ruam — Fase yang Paling Khas

Ruam cacar air memiliki pola perkembangan yang sangat khas dan berbeda dari ruam penyakit lainnya. Ia dimulai sebagai bintik-bintik kemerahan kecil yang datar — mirip gigitan nyamuk — yang biasanya pertama kali muncul di wajah, kulit kepala, atau dada. Dalam waktu beberapa jam, bintik-bintik ini berkembang menjadi papula — benjolan kecil yang sedikit terangkat — kemudian dengan cepat berubah menjadi vesikel, yaitu lepuhan berisi cairan bening yang terlihat seperti tetesan air di atas kulit kemerahan.

Yang sangat khas dari ruam cacar air adalah bahwa kamu bisa melihat berbagai tahap ruam pada waktu yang bersamaan — ada yang masih berupa bintik merah, ada yang sudah menjadi lepuhan, dan ada yang sudah mengering menjadi keropeng, semua dalam waktu yang sama. Ini disebut polimorfisme lesi dan merupakan salah satu cara dokter mengenali cacar air secara klinis.

Rasa gatal yang ditimbulkan oleh lepuhan cacar air bisa sangat intens dan menyiksa. Pada anak-anak, dorongan untuk menggaruk bisa sangat sulit ditahan, dan garukan pada lepuhan adalah salah satu cara paling umum komplikasi infeksi bakteri sekunder terjadi.

Penyebaran Ruam

Ruam biasanya menyebar dari batang tubuh ke wajah, kulit kepala, lengan, dan kaki. Pada kasus yang berat, ruam bisa menyebar ke dalam mulut, tenggorokan, kelopak mata, bahkan area genital — yang membuat makan, minum, melihat, dan ke kamar mandi menjadi sangat tidak nyaman dan menyakitkan.

Jumlah Lepuhan

Jumlah lepuhan sangat bervariasi antar individu. Pada kasus ringan, mungkin hanya ada 200 hingga 300 lepuhan. Pada kasus berat — yang lebih sering terjadi pada orang dewasa — bisa ada lebih dari 500 hingga 1.000 lepuhan yang menutupi seluruh tubuh.


Komplikasi yang Perlu Diwaspadai

Ini adalah bagian yang paling sering diabaikan dalam diskusi tentang cacar air, padahal pemahamannya sangat penting untuk kewaspadaan yang tepat.

Infeksi bakteri sekunder pada lepuhan yang digaruk adalah komplikasi yang paling umum. Kulit yang terluka akibat garukan menjadi pintu masuk bagi bakteri, yang bisa menyebabkan infeksi kulit dari yang ringan hingga yang sangat serius seperti selulitis atau bahkan infeksi bakteri yang mengancam jiwa.

Pneumonia varisela — infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus varisela — adalah komplikasi serius yang jauh lebih sering terjadi pada orang dewasa dibanding anak-anak. Ini adalah salah satu alasan utama mengapa cacar air pada orang dewasa bisa jauh lebih berbahaya.

Komplikasi neurologis seperti ensefalitis — peradangan otak — meskipun jarang, bisa terjadi dan bisa meninggalkan dampak permanen.

Sindrom Reye adalah kondisi yang sangat serius yang pernah dikaitkan dengan pemberian aspirin kepada anak-anak dengan infeksi virus termasuk cacar air. Ini adalah salah satu alasan mengapa aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak.

Komplikasi pada ibu hamil dan bayi baru lahir bisa sangat serius, termasuk cacar air kongenital yang bisa menyebabkan cacat lahir, dan cacar air neonatal yang bisa mengancam jiwa bayi baru lahir.


Proses Diagnosis

Dalam sebagian besar kasus, diagnosis cacar air bisa ditegakkan secara klinis — artinya hanya berdasarkan pemeriksaan fisik dan riwayat gejala tanpa memerlukan pemeriksaan laboratorium khusus.

Pola ruam yang khas dengan polimorfisme lesi — berbagai tahap perkembangan ruam yang muncul bersamaan — ditambah dengan riwayat demam dan gejala umum yang mendahului ruam biasanya sudah cukup untuk diagnosis. Dokter juga akan menanyakan riwayat paparan terhadap penderita cacar air dan status imunitas penderita.

Pada kasus yang tidak tipikal atau pada pasien dengan risiko komplikasi tinggi, pemeriksaan laboratorium seperti PCR untuk mendeteksi DNA virus varisela dari cairan lepuhan atau dari sampel darah bisa dilakukan untuk konfirmasi.


Pilihan Pengobatan

Untuk Anak yang Sehat — Penanganan Suportif

Pada anak yang sehat tanpa faktor risiko khusus, cacar air biasanya ditangani secara suportif untuk mengelola gejala sambil menunggu sistem kekebalan tubuh menyelesaikan tugasnya.

Mengelola demam dengan parasetamol adalah langkah yang aman dan efektif. Yang sangat penting untuk dihindari adalah aspirin dan ibuprofen — aspirin karena risiko Sindrom Reye, dan ibuprofen karena beberapa penelitian mengaitkannya dengan peningkatan risiko infeksi kulit yang serius pada penderita cacar air.

Mengatasi rasa gatal adalah tantangan utama dalam penanganan cacar air. Losion calamine yang dioleskan pada lepuhan memberikan efek mendinginkan dan sedikit mengurangi rasa gatal. Antihistamin oral yang menyebabkan kantuk seperti chlorpheniramine bisa membantu mengurangi gatal sekaligus membantu tidur — yang sangat dibutuhkan penderita. Mandi dengan air dingin atau suam-suam kuku — bukan air panas yang justru memperburuk gatal — juga memberikan kelegaan sementara. Menambahkan oatmeal koloid ke dalam air mandi adalah cara tradisional yang terbukti efektif menenangkan kulit yang gatal.

Menjaga kuku tetap pendek dan bersih, menggunakan sarung tangan tipis pada anak kecil di malam hari, dan mengingatkan anak untuk tidak menggaruk adalah langkah-langkah penting untuk mencegah infeksi bakteri sekunder.

Obat Antiviral

Obat antiviral asiklovir bisa digunakan untuk cacar air, namun tidak direkomendasikan secara rutin untuk semua kasus. Penggunaannya direkomendasikan untuk kelompok-kelompok yang berisiko tinggi mengalami komplikasi — remaja dan orang dewasa, penderita dengan kondisi kulit atau paru-paru kronis, mereka yang menggunakan kortikosteroid, dan penderita dengan sistem kekebalan yang lemah. Agar efektif, asiklovir perlu diberikan dalam 24 jam pertama sejak ruam muncul.

Penanganan di Rumah — Tips Praktis

Istirahat yang cukup sangat penting untuk mendukung proses pemulihan. Penderita cacar air harus diisolasi dari kontak dengan orang lain yang berisiko — terutama ibu hamil, bayi baru lahir, dan mereka dengan sistem kekebalan lemah — hingga semua lepuhan sudah mengering dan mengeras.

Menjaga kebersihan tubuh tetap penting meskipun penderita sakit — mandi ringan setiap hari dengan air bersih membantu mengurangi risiko infeksi bakteri sekunder pada lepuhan.

Hidrasi yang baik, makanan yang mudah dicerna dan bergizi, serta pakaian yang longgar dan terbuat dari bahan yang lembut untuk mengurangi iritasi pada kulit yang penuh lepuhan adalah bagian penting dari penanganan di rumah.


Tanda Bahaya yang Harus Segera Mendapat Perhatian Medis

Segera bawa ke dokter atau fasilitas kesehatan jika penderita mengalami demam yang sangat tinggi di atas 39,5 derajat Celsius yang tidak turun dengan parasetamol, kesulitan bernapas atau napas yang cepat dan dangkal yang bisa mengindikasikan pneumonia, kebingungan atau perubahan perilaku yang tiba-tiba yang bisa mengindikasikan keterlibatan sistem saraf, lepuhan yang tampak terinfeksi bakteri — kemerahan yang menyebar, bengkak, hangat, dan mengeluarkan nanah, serta penderita yang tampak sangat sakit atau kondisinya memburuk dengan cepat.


Pencegahan dan Tips Hidup Sehat

Kebersihan tangan yang konsisten adalah langkah pencegahan dasar yang sangat efektif. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir — terutama setelah kontak dengan penderita atau benda-benda yang mungkin terkontaminasi — secara signifikan mengurangi risiko penularan.

Menghindari kontak dengan penderita cacar air aktif adalah langkah yang paling langsung, terutama bagi mereka yang belum pernah terinfeksi dan berada dalam kelompok risiko tinggi.

Menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan bergizi seimbang, tidur yang cukup, olahraga teratur, dan manajemen stres yang baik adalah investasi jangka panjang yang mendukung kemampuan tubuh untuk melawan berbagai infeksi termasuk virus varisela.


FAQ: Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Cacar Air

Apakah seseorang yang sudah pernah kena cacar air bisa terkena lagi?

Dalam kondisi normal, infeksi cacar air memberikan kekebalan seumur hidup sehingga reinfeksi sangat jarang terjadi. Namun virus tidak hilang dari tubuh — ia bersembunyi di jaringan saraf dan bisa aktif kembali dalam bentuk herpes zoster atau cacar ular, terutama saat sistem kekebalan tubuh melemah karena stres, penuaan, atau kondisi kesehatan tertentu.

Berapa lama cacar air menular?

Cacar air menular mulai dari satu hingga dua hari sebelum ruam pertama muncul hingga semua lepuhan sudah mengering dan mengeras menjadi keropeng — biasanya sekitar lima hingga tujuh hari setelah ruam pertama muncul. Penderita sebaiknya tidak masuk sekolah atau tempat kerja sampai semua lepuhan sudah benar-benar mengering.

Apakah cacar air pada orang dewasa lebih berbahaya dari pada anak-anak?

Ya, secara signifikan. Orang dewasa yang terinfeksi cacar air untuk pertama kalinya cenderung mengalami gejala yang jauh lebih berat, jumlah lepuhan yang lebih banyak, dan risiko komplikasi seperti pneumonia dan komplikasi neurologis yang jauh lebih tinggi dibanding anak-anak yang sehat.

Bolehkah mandi ketika terkena cacar air?

Boleh, dan bahkan dianjurkan. Mandi dengan air bersih membantu menjaga kebersihan kulit dan mengurangi risiko infeksi bakteri sekunder pada lepuhan. Gunakan air dingin atau suam-suam kuku, hindari menggosok kulit, dan keringkan tubuh dengan cara ditepuk-tepuk lembut dengan handuk bersih — bukan digosok.

Apakah bekas cacar air bisa hilang?

Bekas cacar air yang terjadi akibat garukan bisa meninggalkan bekas yang cukup lama bahkan permanen, terutama jika infeksi bakteri sekunder terjadi. Lepuhan yang dibiarkan mengering secara alami tanpa digaruk biasanya meninggalkan bekas yang minimal dan sering kali memudar seiring waktu. Itulah mengapa mencegah garukan adalah hal yang sangat penting dalam penanganan cacar air.


Penutup: Jangan Remehkan, tapi Juga Jangan Panik

Cacar air memang sangat umum dan sebagian besar kasusnya bisa ditangani dengan baik di rumah. Tapi “umum” tidak berarti “tidak perlu diperhatikan” — terutama ketika yang mengalaminya adalah orang dewasa, ibu hamil, bayi baru lahir, atau mereka dengan kondisi kekebalan yang lemah.

Kunci dari penanganan cacar air yang baik adalah mengenali gejalanya dengan benar, memahami kapan kondisi ini bisa menjadi serius, mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengelola gejala dan mencegah komplikasi, serta mengetahui kapan harus segera mencari bantuan medis.

Dan jangan lupa — meskipun cacar air sudah berlalu dan sembuh, virus varisela masih ada di dalam tubuhmu. Menjaga daya tahan tubuh tetap optimal bukan hanya melindungi dari infeksi baru, tapi juga mencegah virus yang sudah “tidur” itu untuk terbangun kembali di masa depan.

Jangan lupa follow media sosial kami:

https://www.instagram.com/klinikfakta?igsh=MTU4ZGg1YjVrZHdhYQ==

Subscribe Today

GET EXCLUSIVE FULL ACCESS TO PREMIUM CONTENT

SUPPORT NONPROFIT JOURNALISM

EXPERT ANALYSIS OF AND EMERGING TRENDS IN CHILD WELFARE AND JUVENILE JUSTICE

TOPICAL VIDEO WEBINARS

Get unlimited access to our EXCLUSIVE Content and our archive of subscriber stories.

Exclusive content

- Advertisement -Newspaper WordPress Theme

Latest article

More article

- Advertisement -Newspaper WordPress Theme