
“Saya Tidak Merasakan Apa-Apa — Berarti Saya Aman, Kan?”
Inilah anggapan yang paling sering — dan paling berbahaya — ketika membicarakan infeksi menular seksual (IMS).
Banyak orang mengira bahwa jika tidak ada rasa sakit, tidak ada cairan yang tidak biasa, tidak ada luka yang terlihat, maka semuanya baik-baik saja. Sayangnya, gonore dan sifilis tidak bekerja dengan logika itu. Kedua infeksi ini dikenal sebagai “silent infections” — infeksi yang bisa bersembunyi di dalam tubuh selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tanpa menimbulkan keluhan yang berarti.
Sementara itu, diam-diam kerusakan terjadi. Organ reproduksi, jantung, pembuluh darah, bahkan sistem saraf bisa terpengaruh — dan yang lebih mengkhawatirkan, penderita yang tidak menyadari kondisinya terus menularkan infeksi kepada pasangan seksualnya tanpa disadari.
Data dari Kementerian Kesehatan RI dan WHO menunjukkan bahwa gonore dan sifilis mengalami peningkatan kasus yang signifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Ini bukan sekadar masalah kesehatan individu — ini adalah isu kesehatan masyarakat yang perlu dihadapi dengan keterbukaan, bukan stigma.
Artikel ini hadir untuk memberikan informasi yang akurat, jujur, dan bebas dari penghakiman — karena pengetahuan adalah langkah pertama menuju perlindungan diri yang nyata.
Bagian 1: Gonore
Apa Itu Gonore?
Gonore — dikenal juga dengan sebutan kencing nanah atau dalam istilah medis gonorrhea — adalah infeksi bakteri menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Bakteri ini menyerang selaput lendir yang lembap dan hangat di dalam tubuh, termasuk uretra (saluran kencing), serviks (leher rahim), rektum (dubur), tenggorokan, dan bahkan konjungtiva (selaput mata).
Gonore adalah salah satu IMS paling umum di dunia. WHO memperkirakan lebih dari 82 juta kasus baru gonore terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia — dan angka ini terus meningkat, sebagian karena munculnya strain bakteri yang resisten terhadap antibiotik.
Penyebab dan Cara Penularan Gonore
Gonore ditularkan melalui kontak seksual langsung dengan orang yang terinfeksi, termasuk:
- Hubungan seksual vaginal tanpa pelindung
- Hubungan seksual anal tanpa pelindung
- Hubungan seksual oral tanpa pelindung (dapat menginfeksi tenggorokan)
- Kontak genital tanpa penetrasi dalam beberapa kasus
Penting untuk dipahami: gonore tidak menular melalui pelukan, berjabat tangan, berbagi toilet, atau menggunakan kolam renang bersama.
Penularan dari ibu ke bayi juga bisa terjadi selama proses persalinan, yang dapat menyebabkan infeksi mata serius pada bayi baru lahir (ophthalmia neonatorum) hingga kebutaan jika tidak ditangani.
Faktor Risiko Gonore
Siapa pun yang aktif secara seksual bisa tertular gonore, namun risiko lebih tinggi pada:
- Individu yang memiliki lebih dari satu pasangan seksual
- Orang yang tidak menggunakan kondom secara konsisten
- Remaja dan dewasa muda (usia 15–24 tahun)
- Individu yang pernah mengalami IMS sebelumnya
- Pasangan dari seseorang yang terdiagnosis gonore
- Orang yang melakukan hubungan seksual dengan orang baru tanpa tes IMS terlebih dahulu
Gejala Gonore: Kenali Tanda-Tandanya
Pada Pria:
- Keluar cairan dari penis — berwarna putih, kuning, atau kehijauan
- Rasa terbakar atau nyeri saat buang air kecil
- Pembengkakan atau nyeri pada salah satu testis
- Sebagian pria (sekitar 10%) tidak mengalami gejala sama sekali
Pada Wanita: Ini yang membuat gonore sangat berbahaya pada wanita — hingga 50% wanita yang terinfeksi tidak merasakan gejala apapun. Jika ada gejala, bisa berupa:
- Peningkatan atau perubahan warna keputihan
- Rasa terbakar saat buang air kecil
- Perdarahan di luar siklus menstruasi
- Nyeri panggul atau perut bagian bawah
Pada Rektum (anal):
- Keluarnya cairan dari dubur
- Gatal atau rasa tidak nyaman di sekitar anus
- Nyeri saat buang air besar
Pada Tenggorokan:
- Seringkali tanpa gejala
- Kadang menyebabkan sakit tenggorokan ringan yang sulit dibedakan dari infeksi tenggorokan biasa
Komplikasi Gonore Jika Tidak Diobati
Gonore yang dibiarkan tanpa pengobatan dapat berkembang menjadi kondisi serius:
Pada wanita: Penyakit radang panggul (PRP/Pelvic Inflammatory Disease) yang dapat menyebabkan kerusakan tuba falopi, nyeri panggul kronis, kehamilan ektopik, hingga infertilitas (kemandulan) permanen.
Pada pria: Epididimitis (peradangan saluran di belakang testis) yang jika tidak diobati juga dapat menyebabkan infertilitas.
Pada semua orang: Dalam kasus langka, bakteri dapat masuk ke aliran darah dan menyebabkan gonore diseminata — infeksi yang memengaruhi sendi, kulit, dan organ lain, yang bisa mengancam jiwa.
Bagian 2: Sifilis
Apa Itu Sifilis?
Sifilis adalah infeksi bakteri menular seksual yang disebabkan oleh Treponema pallidum. Berbeda dari gonore yang menyerang selaput lendir tertentu, sifilis adalah infeksi sistemik — artinya ia dapat memengaruhi hampir setiap organ dan sistem dalam tubuh jika tidak diobati.
Sifilis dikenal sebagai “the great imitator” (si peniru ulung) karena gejalanya bisa menyerupai banyak penyakit lain, sehingga sering salah didiagnosis atau tidak terdeteksi sama sekali. Pada tahun 2020, WHO memperkirakan ada sekitar 7,1 juta kasus baru sifilis di seluruh dunia setiap tahunnya.
Penyebab dan Cara Penularan Sifilis
Sifilis ditularkan melalui kontak langsung dengan luka sifilis (chancre) yang aktif, yang biasanya terjadi melalui:
- Hubungan seksual vaginal, anal, atau oral tanpa pelindung
- Kontak kulit dengan luka sifilis di area yang tidak terlindungi kondom
Bakteri Treponema pallidum tidak bisa bertahan lama di luar tubuh dan tidak menular melalui toilet, gagang pintu, kolam renang, atau pakaian bersama.
Sifilis kongenital — penularan dari ibu yang terinfeksi ke janin melalui plasenta — adalah komplikasi yang sangat serius dan bisa menyebabkan kelahiran mati, kecacatan bawaan, atau kematian bayi baru lahir.
Faktor Risiko Sifilis
Faktor risiko sifilis serupa dengan gonore, namun ada beberapa kelompok dengan risiko khususnya lebih tinggi:
- Individu yang tidak menggunakan kondom secara konsisten
- Orang dengan multiple pasangan seksual
- Individu yang pernah mengalami IMS lain sebelumnya
- Orang dengan HIV — sifilis dan HIV saling memperburuk satu sama lain
- Pasangan seksual dari seseorang yang terdiagnosis sifilis
Gejala Sifilis: Empat Tahap yang Perlu Diketahui
Sifilis berkembang secara bertahap, dan setiap tahap memiliki karakteristik yang berbeda — bahkan ada periode di mana sifilis “bersembunyi” tanpa gejala sama sekali.
Tahap 1 — Sifilis Primer (3–4 minggu setelah infeksi)
Gejala utama adalah munculnya chancre — luka atau ulkus yang keras, bulat, dan biasanya tidak terasa sakit — di tempat bakteri masuk. Lokasi paling umum: penis, vagina, dubur, bibir, atau mulut.
Karena luka ini tidak nyeri dan bisa tersembunyi di dalam vagina, dubur, atau di bawah kulup, banyak orang tidak menyadarinya. Chancre akan sembuh sendiri dalam 3–6 minggu bahkan tanpa pengobatan — tetapi ini bukan berarti infeksinya hilang. Bakteri hanya berpindah ke tahap berikutnya.
Tahap 2 — Sifilis Sekunder (beberapa minggu setelah chancre sembuh)
Ini adalah tahap yang paling bervariasi gejalanya, antara lain:
- Ruam kulit yang tidak gatal, sering muncul di telapak tangan dan telapak kaki (ciri khas)
- Luka datar di area genital atau lipatan tubuh (condylomata lata)
- Demam ringan, kelelahan, sakit tenggorokan
- Pembengkakan kelenjar getah bening
- Rambut rontok tidak merata
- Sakit kepala dan nyeri otot
Gejala-gejala ini pun bisa hilang sendiri tanpa pengobatan, memberi kesan palsu bahwa penyakit telah sembuh.
Tahap 3 — Sifilis Laten (tanpa gejala, bisa berlangsung bertahun-tahun)
Setelah gejala sekunder menghilang, sifilis memasuki fase laten — fase tanpa gejala. Ini dibagi menjadi laten awal (kurang dari 1 tahun) dan laten lanjut (lebih dari 1 tahun). Pada fase ini, seseorang masih terinfeksi dan masih bisa menularkan kepada pasangan seksual, tetapi tidak menunjukkan tanda apapun.
Tahap 4 — Sifilis Tersier (terjadi pada sebagian penderita yang tidak diobati)
Ini adalah tahap paling berbahaya, yang bisa muncul 10–30 tahun setelah infeksi awal. Komplikasi pada tahap ini meliputi:
- Neurosifilis: Infeksi pada otak dan sistem saraf — menyebabkan demensia, stroke, kehilangan penglihatan, gangguan keseimbangan
- Sifilis kardiovaskular: Kerusakan pada aorta (pembuluh darah utama dari jantung)
- Gumma: Benjolan atau lesi pada kulit, tulang, atau organ dalam
Diagnosis: Mengapa Tes Adalah Satu-Satunya Cara Pasti
Karena keduanya sering hadir tanpa gejala yang jelas, tes laboratorium adalah satu-satunya cara untuk memastikan diagnosis gonore dan sifilis.
Tes untuk Gonore
- Usap (swab) dari area yang diduga terinfeksi — uretra, serviks, rektum, atau tenggorokan — kemudian dikultur di laboratorium atau diuji dengan metode NAAT (Nucleic Acid Amplification Test)
- Tes urin dapat digunakan untuk skrining gonore pada uretra
Tes untuk Sifilis
- Tes darah adalah metode utama. Ada dua jenis:
- Non-treponemal tests (VDRL, RPR) — digunakan untuk skrining awal
- Treponemal tests (TPHA, FTA-ABS) — untuk konfirmasi diagnosis
Siapa yang Sebaiknya Melakukan Tes?
Rekomendasi tes IMS secara rutin berlaku bagi:
- Orang yang aktif secara seksual dengan pasangan baru atau lebih dari satu pasangan
- Wanita hamil — skrining sifilis adalah standar pemeriksaan antenatal
- Individu dengan HIV — dianjurkan tes IMS setiap 3–6 bulan
- Siapa pun yang pernah terdiagnosis IMS sebelumnya
- Orang yang memiliki gejala yang mencurigakan
Tes IMS kini tersedia di Puskesmas, klinik IMS, rumah sakit, dan berbagai layanan kesehatan swasta. Banyak layanan yang menjamin kerahasiaan hasil tes.
Pengobatan: Kabar Baiknya, Keduanya Bisa Disembuhkan
Kabar yang sangat menggembirakan: gonore dan sifilis adalah infeksi bakteri yang dapat disembuhkan sepenuhnya dengan antibiotik, asalkan ditangani sejak dini dan sesuai rekomendasi dokter.
Pengobatan Gonore
Karena meningkatnya resistensi antibiotik, pengobatan gonore saat ini umumnya menggunakan kombinasi antibiotik, paling sering:
- Seftriakson (injeksi) sebagai terapi utama
- Kadang dikombinasikan dengan azitromisin atau doksisiklin, terutama jika ada kemungkinan infeksi klamidia bersamaan
Pengobatan harus diselesaikan sepenuhnya sesuai anjuran dokter. Jangan menghentikan antibiotik di tengah jalan, meski gejala sudah membaik — ini adalah salah satu penyebab utama resistensi antibiotik.
Pasangan seksual dari 60 hari terakhir juga harus diperiksa dan diobati untuk mencegah penularan kembali (ping-pong infection).
Pengobatan Sifilis
Sifilis diobati dengan penisilin — yang hingga saat ini masih menjadi obat paling efektif dan menjadi standar terapi:
- Sifilis primer, sekunder, dan laten awal: Benzatin penisilin G injeksi, biasanya dosis tunggal
- Sifilis laten lanjut atau tersier: Serangkaian injeksi selama beberapa minggu
- Neurosifilis: Penisilin intravena dosis tinggi selama 10–14 hari
Bagi yang alergi penisilin, dokter dapat meresepkan alternatif seperti doksisiklin atau tetrasiklin, dengan pemantauan ketat.
Setelah pengobatan, tes darah ulang diperlukan untuk memastikan respons terapi — karena antibodi sifilis dalam darah tidak langsung hilang dan membutuhkan waktu untuk menurun ke tingkat yang tidak aktif.
Yang Perlu Dipahami tentang Pengobatan
- Pengobatan tidak memulihkan kerusakan organ yang sudah terjadi — inilah mengapa deteksi dini sangat penting
- Seseorang yang sudah sembuh dari gonore atau sifilis tidak mendapat kekebalan permanen — mereka bisa terinfeksi kembali jika terpapar ulang
- Jangan melakukan hubungan seksual sampai Anda dan pasangan dinyatakan sembuh oleh dokter
Pencegahan: Langkah Nyata yang Bisa Dilakukan Hari Ini
1. Gunakan Kondom Secara Konsisten dan Benar
Kondom laki-laki (kondom lateks atau poliuretan) yang digunakan dengan benar setiap kali berhubungan seksual adalah salah satu perlindungan paling efektif terhadap gonore dan sifilis. Kondom wanita juga memberikan perlindungan yang baik.
Penting: kondom tidak memberikan perlindungan 100% terhadap sifilis jika luka chancre berada di area yang tidak tertutup kondom (misalnya pangkal paha atau skrotum).
2. Tes IMS Secara Rutin
Jadikan pemeriksaan IMS sebagai bagian dari rutinitas kesehatan Anda — terutama jika Anda aktif secara seksual. Tidak ada yang perlu dipermalukan dari menjaga kesehatan seksual. Tes rutin adalah tindakan bertanggung jawab, bukan tanda ketidakmoralan.
3. Komunikasi Terbuka dengan Pasangan
Diskusikan riwayat dan status kesehatan seksual dengan pasangan Anda sebelum memulai hubungan seksual. Ini mungkin terasa canggung, tetapi merupakan tanda kedewasaan dan saling menghormati.
4. Batasi Jumlah Pasangan Seksual
Semakin banyak pasangan seksual, semakin tinggi risiko terpapar IMS. Monogami dengan pasangan yang sama-sama sudah dites dan negatif secara signifikan mengurangi risiko.
5. Hindari Berbagi Alat Seksual
Jika menggunakan alat bantu seksual, jangan berbagi dengan orang lain atau pastikan selalu dibersihkan dan dilindungi kondom sebelum digunakan bersama.
6. Skrining Antenatal untuk Ibu Hamil
Setiap wanita hamil wajib menjalani tes sifilis di trimester pertama kehamilan sebagai bagian dari pemeriksaan antenatal standar. Jika terdeteksi dan diobati sebelum minggu ke-26 kehamilan, risiko sifilis kongenital pada bayi dapat sangat ditekan.
Menghapus Stigma: Kesehatan Seksual Adalah Bagian dari Kesehatan Secara Keseluruhan
Salah satu hambatan terbesar dalam penanganan IMS adalah stigma sosial. Banyak orang menunda periksa atau bahkan tidak berani tes karena takut dihakimi — oleh tenaga kesehatan, keluarga, atau masyarakat.
Padahal kenyataannya: gonore dan sifilis bisa dialami oleh siapa saja yang aktif secara seksual, tanpa memandang latar belakang, status pernikahan, atau identitas apapun. Ini adalah kondisi medis, bukan cerminan karakter seseorang.
Jika Anda merasa khawatir dengan status kesehatan seksual Anda, langkah paling berani dan paling bijak yang bisa Anda ambil adalah pergi tes. Banyak klinik menyediakan layanan yang sepenuhnya rahasia dan bebas dari penghakiman.
Penutup: Diam Bukan Berarti Aman
Gonore dan sifilis tidak selalu berteriak dengan gejala yang jelas. Mereka bisa bersembunyi dalam diam, sambil perlahan menimbulkan kerusakan yang bisa berdampak seumur hidup — pada kesuburan, kesehatan organ, sistem saraf, bahkan nyawa.
Namun keduanya bisa dicegah. Keduanya bisa dideteksi. Dan yang terpenting, keduanya bisa disembuhkan.
Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mengambil langkah pertama: mencari informasi, melakukan tes, dan berbicara dengan tenaga kesehatan yang Anda percaya.
Karena tidak ada yang lebih penting dari kesehatan Anda — dan kesehatan orang-orang yang Anda sayangi.
Jangan lupa follow media sosial kami:
https://www.instagram.com/klinikfakta?igsh=MTU4ZGg1YjVrZHdhYQ==



