Covid-19 Varian Baru: Apa yang Perlu Kita Ketahui tentang Gejala dan Pencegahannya

0
4

Covid-19 Varian Baru: Apa yang Perlu Kita Ketahui tentang Gejala dan Pencegahannya

PEMBUKA

“Dok, saya baru saja merasa badan lelah terus, sakit tenggorokan, dan suara jadi serak padahal tidak pernah merokok atau terlalu banyak bicara. Apakah ini hanya flu biasa atau ada kemungkinan terkena Covid-19 lagi?” – Keluhan seperti ini mulai sering terdengar kembali di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk di Indonesia. Banyak orang mengira keluhan tersebut hanya masalah ringan yang akan hilang dengan sendirinya, namun di baliknya bisa jadi merupakan tanda infeksi varian baru Covid-19. Setelah beberapa tahun sejak pandemi mencapai puncaknya, masyarakat mulai mengendurkan waspada terhadap protokol kesehatan, padahal virus SARS-CoV-2 terus mengalami mutasi dan menghasilkan varian baru yang memiliki karakteristik berbeda. Saat ini, dua varian yang menjadi perhatian adalah XFG (dijuluki ‘Stratus’) dan NB.1.8.1, yang telah menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia.

APA ITU COVID-19 VARIAN BARU?

Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, yang pertama kali ditemukan pada akhir 2019 di Wuhan, Tiongkok. Sejak saat itu, virus ini terus mengalami mutasi genetik, menghasilkan berbagai varian dengan karakteristik yang berbeda. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan varian virus ke dalam tiga kategori: Variants Under Monitoring (VUM), Variants of Interest (VOI), dan Variants of Concern (VOC).

Saat ini, dua varian baru yang menjadi fokus pemantauan adalah:

  • Varian XFG (Stratus): Merupakan varian rekombinan yang berasal dari subvarian LF.7 dan LP.8.1.2, pertama kali terdeteksi pada 27 Januari 2025. Hingga bulan Juni 2025, varian ini telah menjadi varian dominan di Indonesia, dengan 100% spesimen yang diperiksa menunjukkan keberadaannya. WHO mengklasifikasikannya sebagai VUM.
  • Varian NB.1.8.1: Merupakan varian turunan dari JN.1 (subkelompok Omicron), pertama kali terdeteksi pada 22 Januari 2025 di Tiongkok. Varian ini telah menyebar ke 22 negara di dunia, termasuk Amerika Serikat, Hong Kong, dan Thailand, dan juga diklasifikasikan sebagai VUM oleh WHO.

PENYEBAB DAN FAKTOR RISIKO

Penyebab Utama

Infeksi Covid-19 varian baru disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang telah mengalami mutasi pada protein spike, sehingga memiliki kemampuan untuk menghindari antibodi dari infeksi sebelumnya atau vaksinasi. Penularan virus tetap terjadi melalui jalur respirasi, yaitu melalui tetesan udara yang dihasilkan ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara.

Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai

  • Kurangnya vaksinasi atau belum mendapatkan dosis booster terbaru: Meskipun vaksin yang ada masih efektif mencegah penyakit berat, kelompok yang tidak divaksinasi atau tidak mendapatkan dosis tambahan berisiko lebih tinggi terkena infeksi dan mengalami gejala yang lebih berat.
  • Kontak dengan orang yang terinfeksi: Terutama jika tidak menggunakan masker atau tidak menjaga jarak fisik di tempat umum yang ramai.
  • Sistem kekebalan tubuh lemah: Orang dengan kondisi kesehatan bawaan (seperti diabetes, penyakit ginjal, atau penyakit jantung), lansia, anak-anak kecil, dan mereka yang sedang menjalani pengobatan imunosupresan berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
  • Kondisi lingkungan yang padat dan kurang berventilasi: Tempat seperti transportasi umum, kantor, atau pasar yang ramai dan kurang memiliki aliran udara yang baik dapat mempermudah penyebaran virus.
  • Kurangnya kebersihan pribadi: Tidak mencuci tangan secara teratur atau menyentuh wajah tanpa membersihkan tangan terlebih dahulu dapat meningkatkan risiko penularan.

GEJALA-GEJALA YANG MUNCUL

Gejala yang ditimbulkan oleh varian baru umumnya mirip dengan varian Omicron sebelumnya, yaitu ringan hingga sedang. Namun, terdapat beberapa gejala khas yang menjadi ciri khas masing-masing varian:

Gejala Umum (Kedua Varian)

  • Demam dan menggigil
  • Sakit tenggorokan
  • Kelelahan ekstrem
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot dan tubuh
  • Batuk kering
  • Mual dan muntah (pada beberapa kasus)
  • Diare (pada beberapa kasus)
  • Kehilangan indra perasa dan penciuman (jarang terjadi dibanding varian awal)

Gejala Khas Varian XFG (Stratus)

  • Suara serak atau parau: Menjadi gejala yang paling mencolok dan sering muncul sebagai tanda awal infeksi.

Gejala Khas Varian NB.1.8.1

  • Sakit kepala hebat: Banyak pasien melaporkan sakit kepala yang lebih intens dibandingkan varian lain.
  • Gangguan pencernaan: Mual, muntah, dan diare lebih sering terjadi pada kasus infeksi varian ini.

Perlu diperhatikan bahwa sebagian besar kasus infeksi varian baru tidak menunjukkan gejala apapun (kasus tanpa gejala), namun masih dapat menularkan virus ke orang lain.

PROSES DIAGNOSIS

Proses diagnosis Covid-19 varian baru tidak berbeda dengan diagnosis varian sebelumnya, yaitu melalui langkah berikut:

1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik: Dokter akan menanyakan riwayat kontak dengan orang yang terinfeksi, riwayat perjalanan, dan keluhan yang dirasakan. Pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk mengevaluasi kondisi umum pasien, seperti suhu tubuh, denyut nadi, dan frekuensi napas.
2. Pemeriksaan Laboratorium:

  • Tes Antigen: Digunakan untuk mendeteksi keberadaan protein virus dalam waktu singkat (15-30 menit), cocok untuk skrining cepat.
  • Tes PCR: Digunakan untuk mendeteksi materi genetik virus, memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi dan dapat digunakan untuk mengkonfirmasi infeksi.
  • Whole Genome Sequencing (WGS): Digunakan untuk mengidentifikasi jenis varian yang menyebabkan infeksi, biasanya dilakukan pada spesimen yang diambil dari pasien dengan kasus yang mencurigakan atau sebagai bagian dari pemantauan virus oleh pemerintah.
    3. Pemeriksaan Tambahan: Jika pasien mengalami gejala yang berat atau komplikasi, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan tambahan seperti rontgen dada atau tes darah untuk mengevaluasi kondisi paru-paru dan fungsi organ lainnya.

PILIHAN PENGOBATAN

Sampai saat ini, belum ada obat antivirus khusus yang dirancang untuk varian baru Covid-19. Pengobatan bertujuan untuk meredakan gejala, mencegah komplikasi, dan mendukung sistem kekebalan tubuh dalam melawan virus.

Pengobatan Medis

  • Pengelolaan gejala: Pemberian obat penurun demam (seperti parasetamol), obat pereda nyeri (seperti ibuprofen dengan resep dokter), dan obat untuk meredakan sakit tenggorokan atau batuk.
  • Obat antivirus: Pada kasus pasien dengan risiko tinggi mengalami penyakit berat, dokter mungkin akan meresepkan obat antivirus seperti nirmatrelvir/ritonavir atau molnupiravir, yang harus diberikan dalam waktu 5 hari setelah timbulnya gejala.
  • Perawatan suportif: Pada kasus yang lebih berat atau terjadi komplikasi (seperti pneumonia atau gagal napas), pasien mungkin perlu dirawat di rumah sakit dan mendapatkan perawatan seperti oksigenasi atau infus cairan.
  • Terapi imunomodulator: Pada beberapa kasus yang sangat berat, dokter mungkin akan meresepkan obat untuk menekan respon imun yang berlebihan dalam tubuh.

Pengobatan Mandiri (Dengan Pengawasan Dokter)

  • Istirahat yang cukup: Membantu tubuh dalam melawan virus dan memulihkan kondisi.
  • Minum cukup cairan: Jaga tubuh tetap terhidrasi dengan minum air putih, jus buah yang tidak terlalu manis, atau kaldu bening.
  • Konsumsi makanan bergizi: Makan makanan yang kaya akan vitamin, mineral, dan protein untuk mendukung sistem kekebalan tubuh, seperti sayuran hijau, buah-buahan, ikan, dan telur.
  • Isolasi diri: Jika terinfeksi, isolasi diri selama minimal 5 hari atau hingga gejala hilang untuk mencegah penularan ke orang lain.
  • Pantau gejala secara teratur: Jika gejala memburuk (seperti kesulitan bernapas, nyeri dada, atau kebingungan), segera cari bantuan medis.

Pengobatan Alternatif (Relevan dan Aman)

  • Tanaman herbal: Beberapa tanaman seperti jahe, kunyit, dan daun sirih memiliki sifat antiinflamasi dan dapat membantu meredakan gejala seperti sakit tenggorokan dan nyeri otot. Namun, penggunaannya harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu untuk menghindari interaksi dengan obat medis.
  • Suplemen: Suplemen seperti vitamin C, vitamin D, dan zinc dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Namun, konsumsi harus sesuai dosis yang dianjurkan oleh dokter.
  • Terapi pernapasan: Latihan pernapasan seperti teknik diafragma atau pernapasan dalam dapat membantu meredakan kesulitan bernapas pada kasus ringan.

CARA PENCEGAHAN DAN TIPS HIDUP SEHAT

Pencegahan Utama

1. Vaksinasi dan Dosis Booster: Vaksinasi tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah penyakit berat, rawat inap, dan kematian akibat Covid-19. Pastikan Anda telah mendapatkan dosis primer lengkap dan dosis booster terbaru sesuai dengan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan RI.
2. Penerapan Protokol Kesehatan:

  • Gunakan masker di tempat umum yang ramai atau kurang berventilasi, terutama jika Anda memiliki kondisi kesehatan bawaan atau berinteraksi dengan kelompok risiko.
  • Jaga jarak fisik minimal 1 meter dari orang lain.
  • Cuci tangan secara teratur dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik, atau gunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60% jika tidak ada akses ke air dan sabun.
  • Hindari menyentuh wajah, terutama mata, hidung, dan mulut.
    3. Pembersihan dan Disinfeksi: Bersihkan dan disinfeksi permukaan yang sering disentuh seperti gagang pintu, meja, dan remote kontrol secara teratur.
    4. Ventilasi Ruangan: Pastikan ruangan tempat tinggal atau bekerja memiliki aliran udara yang baik dengan membuka jendela atau menggunakan kipas angin.
    5. Pemantauan Kesehatan Diri: Jika merasa tidak enak badan atau memiliki gejala yang mencurigakan, segera lakukan tes dan isolasi diri jika hasilnya positif.
    6. Hindari Kontak dengan Orang yang Terinfeksi: Jika Anda mengetahui seseorang yang terinfeksi Covid-19, hindari kontak langsung dan jaga jarak hingga mereka dinyatakan sembuh.

Tips Hidup Sehat untuk Meningkatkan Kekebalan

  • Konsumsi makanan seimbang: Sertakan berbagai jenis makanan dalam makanan sehari-hari, seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, protein berkualitas, dan lemak sehat.
  • Olahraga secara teratur: Lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, seperti jalan cepat, bersepeda, atau yoga.
  • Istirahat yang cukup: Tidur selama 7-9 jam setiap malam untuk membantu tubuh memulihkan diri dan meningkatkan sistem kekebalan.
  • Kelola stres dengan baik: Stres kronis dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, jadi carilah cara sehat untuk mengelolanya seperti meditasi, mendengarkan musik, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman.
  • Hindari merokok dan konsumsi alkohol: Kedua zat ini dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko komplikasi akibat Covid-19.

PENUTUP

Meskipun Covid-19 tidak lagi dianggap sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat internasional, varian baru yang terus muncul tetap menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Dengan mengetahui gejala dan cara pencegahannya, kita dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Kesadaran akan pentingnya vaksinasi, protokol kesehatan, dan gaya hidup sehat menjadi kunci untuk mengendalikan penyebaran virus dan menjaga kesehatan kita semua.

jangan lupa follow media sosial kami :

https://www.instagram.com/klinikfakta?igsh=MTU4ZGg1YjVrZHdhYQ==