
Banjir sudah surut. Air yang tadinya menggenangi lantai rumah sudah mulai meresap, lumpur sudah mulai dibersihkan, dan kehidupan perlahan-lahan kembali normal. Kamu mungkin merasa yang terburuk sudah berlalu.
Tapi dua minggu kemudian, tiba-tiba badan terasa sangat tidak enak. Demam tinggi datang mendadak, kepala terasa seperti mau pecah, otot-otot — terutama di betis — terasa sakit luar biasa sampai sulit berjalan. Kamu pikir mungkin hanya masuk angin atau kelelahan setelah beres-beres pasca banjir.
Itulah yang dipikirkan banyak orang. Dan itulah mengapa leptospirosis sering terlambat terdiagnosis — sampai kondisinya sudah berkembang menjadi jauh lebih serius dari yang seharusnya.
Leptospirosis bukan penyakit yang asing di Indonesia, tapi ia adalah penyakit yang jarang mendapat perhatian yang sepadan dengan ancamannya yang nyata. Setiap musim hujan dan setiap kali banjir melanda, ancaman ini selalu hadir — dan memahaminya dengan benar bisa benar-benar menyelamatkan nyawa.
Apa Itu Leptospirosis?
Leptospirosis adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh bakteri berbentuk spiral dari genus Leptospira. Ini adalah penyakit zoonosis — artinya ia berasal dari hewan dan bisa ditularkan kepada manusia — yang memiliki distribusi global namun paling banyak terjadi di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia.
Secara global, leptospirosis diperkirakan menyebabkan lebih dari satu juta kasus serius setiap tahunnya dengan angka kematian yang signifikan, terutama di negara-negara berkembang. Di Indonesia, kasus leptospirosis melonjak tajam setiap kali musim hujan tiba — dan puncaknya selalu terjadi pasca banjir besar.
Yang membuat leptospirosis menjadi ancaman yang sangat serius adalah kombinasi dari beberapa faktor: gejalanya yang mirip dengan banyak penyakit lain sehingga sering terlambat terdiagnosis, kemampuannya berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa dalam waktu yang relatif singkat, dan rendahnya kesadaran masyarakat tentang risiko nyata yang ditimbulkan oleh paparan air banjir.
Bagaimana Leptospirosis Menular?
Memahami jalur penularan leptospirosis adalah kunci untuk memahami mengapa banjir menciptakan kondisi yang begitu ideal untuk penyebaran penyakit ini.
Bakteri Leptospira hidup dan berkembang biak dalam tubuh berbagai jenis hewan — terutama tikus, namun juga sapi, babi, anjing, dan hewan ternak lainnya. Hewan-hewan yang terinfeksi mengeluarkan bakteri ini melalui urinenya. Dalam kondisi lingkungan yang tepat — tanah yang lembap, air yang menggenang, lingkungan yang tidak terpapar sinar matahari langsung — bakteri ini bisa bertahan hidup selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Ketika banjir terjadi, air yang mengalir membawa urine hewan-hewan yang terinfeksi, mencampur dan mendistribusikannya ke seluruh area yang terendam. Air banjir yang tampaknya hanya “kotor” sebenarnya bisa mengandung konsentrasi bakteri Leptospira yang sangat tinggi — terutama di daerah perkotaan padat penduduk di mana populasi tikus sangat besar.
Manusia bisa terinfeksi melalui beberapa jalur. Kontak kulit — terutama kulit yang memiliki luka, goresan, atau lecet sekecil apapun — dengan air atau tanah yang terkontaminasi adalah jalur penularan yang paling umum pasca banjir. Bakteri masuk melalui celah sekecil apapun pada permukaan kulit yang tidak terlihat oleh mata telanjang sekalipun. Paparan selaput lendir — mata, hidung, dan mulut — terhadap air atau tanah yang terkontaminasi juga merupakan jalur penularan yang penting. Menelan air yang terkontaminasi secara tidak sengaja, terutama saat beraktivitas di air banjir, juga bisa menyebabkan infeksi.
Yang perlu ditekankan adalah leptospirosis tidak menular dari satu manusia ke manusia lain secara langsung. Setiap kasus penularan selalu melibatkan kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi bakteri dari hewan.
Siapa yang Paling Berisiko?
Siapapun yang terpapar dengan air atau tanah yang terkontaminasi bakteri Leptospira berisiko terinfeksi. Namun beberapa kelompok memiliki risiko yang lebih tinggi karena sifat pekerjaan atau aktivitas mereka.
Warga yang terdampak banjir — terutama mereka yang harus berjalan, bekerja, atau bahkan tidur di tengah genangan air banjir — adalah kelompok yang paling langsung berisiko setelah terjadinya banjir. Semakin lama dan semakin intens kontak dengan air banjir, semakin tinggi risikonya.
Petugas yang bekerja dalam respons bencana banjir — tim evakuasi, relawan pembersihan, petugas sanitasi — sering kali menghadapi paparan yang sangat intensif terhadap air dan lumpur yang terkontaminasi.
Petani dan pekerja sawah yang bekerja dengan kaki tanpa alas di lahan yang basah dan berlumpur memiliki risiko paparan yang tinggi secara regular. Pekerja selokan dan sistem drainase, peternak, dokter hewan, dan pekerja rumah pemotongan hewan juga masuk dalam kelompok risiko tinggi.
Penyuka olahraga air di sungai, danau, atau kolam yang mungkin terkontaminasi — seperti kayak, rafting arung jeram, atau berenang di perairan terbuka — juga memiliki risiko yang lebih tinggi dari populasi umum.
Kondisi yang meningkatkan risiko komplikasi serius jika terinfeksi antara lain usia lanjut, kondisi kekebalan yang lemah, penyakit ginjal atau hati yang sudah ada sebelumnya, dan diabetes.
Gejala Leptospirosis: Memahami Dua Fase yang Kritis
Leptospirosis memiliki pola perkembangan gejala yang khas dengan dua fase yang berbeda. Memahami kedua fase ini sangat penting karena banyak orang yang berhenti mencari bantuan medis setelah fase pertama tampak membaik — padahal justru fase kedua itulah yang paling berbahaya.
Fase Pertama — Fase Leptospiremia (Hari 1 hingga 7)
Gejala fase pertama muncul antara dua hingga tiga puluh hari setelah paparan — rata-rata sekitar lima hingga empat belas hari. Onset-nya biasanya tiba-tiba dan intens.
Demam tinggi yang datang mendadak dan bisa mencapai 38 hingga 40 derajat Celsius adalah gejala pertama yang paling khas. Yang sangat membedakan leptospirosis dari penyakit lain adalah nyeri otot yang intens — terutama pada otot betis — yang bisa sangat menyiksa sampai membuat penderita sulit berjalan. Ini adalah keluhan yang sangat khas dan sering menjadi petunjuk klinis yang penting bagi dokter yang berpengalaman.
Sakit kepala yang berat, menggigil, mata merah atau kemerahan yang disebabkan oleh peradangan pembuluh darah mata, mual dan muntah, nyeri perut, dan ruam kulit yang muncul pada sebagian kasus juga merupakan gejala yang umum di fase pertama.
Yang sangat berbahaya adalah setelah lima hingga tujuh hari, gejala-gejala ini biasanya mereda secara spontan. Penderita — dan kadang kali juga keluarganya — mengira sudah sembuh. Padahal pada sekitar 10 hingga 15 persen kasus, ini hanyalah jeda singkat sebelum memasuki fase kedua yang jauh lebih berbahaya.
Fase Kedua — Fase Imun atau Weil’s Disease (Hari 7 hingga 14 dan seterusnya)
Setelah periode jeda singkat, sebagian penderita memasuki fase kedua yang ditandai dengan keterlibatan organ-organ vital. Kondisi ini dalam bentuk beratnya dikenal sebagai Weil’s disease — dinamai dari dokter Adolf Weil yang pertama kali mendeskripsikannya secara sistematis.
Kerusakan ginjal adalah komplikasi yang paling umum di fase ini, ditandai dengan produksi urine yang berkurang drastis atau bahkan berhenti sama sekali, pembengkakan, dan tanda-tanda gagal ginjal akut. Kerusakan hati menyebabkan ikterus — kulit dan bagian putih mata yang menguning — yang bisa menjadi sangat intens. Perdarahan adalah komplikasi serius yang bisa terjadi di berbagai organ, termasuk paru-paru yang bisa menyebabkan batuk darah dan gagal napas. Meningitis — peradangan selaput otak — bisa terjadi dan menyebabkan sakit kepala yang sangat berat, kaku kuduk, dan kepekaan berlebihan terhadap cahaya.
Tanpa penanganan yang tepat dan cepat, fase kedua ini bisa berkembang menjadi kegagalan multi organ yang mengancam jiwa dengan angka kematian yang signifikan.
Proses Diagnosis
Mendiagnosis leptospirosis adalah tantangan klinis yang nyata karena gejalanya — terutama di fase pertama — sangat mirip dengan banyak penyakit lain seperti demam berdarah, malaria, tifoid, dan bahkan flu berat.
Kunci pertama dalam diagnosis adalah kecurigaan klinis yang tinggi berdasarkan konteks — apakah penderita baru saja terdampak banjir, bekerja di lingkungan yang berisiko, atau melakukan aktivitas yang melibatkan paparan air atau tanah yang mungkin terkontaminasi. Riwayat paparan ini adalah informasi yang paling penting yang perlu kamu ceritakan kepada dokter.
Kombinasi gejala yang khas — terutama demam tinggi yang tiba-tiba disertai nyeri betis yang intens dengan riwayat paparan air banjir — seharusnya langsung menimbulkan kecurigaan leptospirosis yang kuat pada dokter yang menangani.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan meliputi tes darah lengkap yang biasanya menunjukkan pola tertentu seperti peningkatan sel darah putih, penurunan trombosit, dan peningkatan enzim hati serta penanda fungsi ginjal. Tes fungsi hati dan ginjal penting untuk menilai sejauh mana organ-organ ini sudah terdampak.
Untuk konfirmasi spesifik leptospirosis, tersedia beberapa tes yang bisa dilakukan — termasuk tes serologi yang mendeteksi antibodi terhadap bakteri leptospira dalam darah, yang biasanya baru bisa terdeteksi setelah beberapa hari sakit, dan pemeriksaan PCR yang bisa mendeteksi materi genetik bakteri lebih awal.
Diagnosis yang cepat sangat krusial karena pengobatan yang diberikan lebih awal jauh lebih efektif dalam mencegah perkembangan ke fase yang lebih berat.
Pilihan Pengobatan
Pengobatan Medis
Leptospirosis adalah infeksi bakteri yang bisa diobati dengan antibiotik — dan ini adalah kabar baik yang sangat penting. Antibiotik yang paling efektif untuk leptospirosis adalah doksisiklin untuk kasus ringan hingga sedang yang bisa diobati secara rawat jalan, dan penisilin atau seftriakson untuk kasus berat yang memerlukan rawat inap dan pemberian melalui infus.
Yang sangat krusial adalah antibiotik ini paling efektif jika diberikan di awal infeksi — terutama dalam fase pertama. Menunda pengobatan karena mengira sudah sembuh ketika gejala fase pertama mereda adalah salah satu kesalahan yang paling sering terjadi dan paling berbahaya.
Untuk kasus berat yang sudah melibatkan komplikasi organ, penanganan di rumah sakit adalah keharusan. Ini mencakup pemberian cairan intravena untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, dukungan fungsi ginjal yang bisa mencakup dialisis pada kasus gagal ginjal berat, penanganan perdarahan jika diperlukan, dan pemantauan ketat terhadap fungsi organ-organ vital secara berkala.
Penanganan Suportif di Rumah
Untuk kasus ringan yang ditangani secara rawat jalan, beberapa langkah suportif penting meliputi istirahat total yang benar-benar konsisten — tubuh membutuhkan semua energinya untuk melawan infeksi bakteri yang agresif ini. Hidrasi yang sangat baik dengan minum banyak air putih untuk mendukung fungsi ginjal yang sedang bekerja keras. Pemantauan gejala yang ketat — perhatikan apakah ada tanda-tanda yang memburuk atau tanda-tanda yang mengindikasikan keterlibatan organ seperti produksi urine yang berkurang, menguningnya kulit atau mata, atau kesulitan bernapas.
Yang sangat penting adalah jangan berhenti ke dokter hanya karena merasa lebih baik setelah beberapa hari. Kontrol ulang sesuai jadwal yang ditetapkan dokter adalah wajib untuk memastikan kondisi benar-benar dalam jalur pemulihan yang aman.
Pencegahan Leptospirosis: Langkah yang Bisa Langsung Dilakukan
Pencegahan leptospirosis, terutama pasca banjir, dimulai dari pemahaman tentang bagaimana mengurangi paparan terhadap air dan tanah yang terkontaminasi.
Menghindari kontak dengan air banjir sebisa mungkin adalah langkah terbaik. Jika kontak tidak bisa dihindari — misalnya untuk membersihkan rumah atau melakukan evakuasi — gunakan perlindungan yang memadai. Sepatu boots karet yang menutupi kaki hingga betis, sarung tangan karet, dan pakaian yang menutupi seluruh tubuh adalah perlindungan minimum yang harus digunakan.
Menutup semua luka, goresan, atau lecet pada kulit dengan perban kedap air sebelum berkontak dengan air banjir sangat penting. Ingat bahwa luka yang sangat kecil sekalipun — yang mungkin kamu sendiri tidak menyadarinya — bisa menjadi pintu masuk bakteri.
Setelah kontak dengan air banjir, segera mandi dengan air bersih dan sabun, cuci semua pakaian yang terkena air banjir, dan jangan menyentuh wajah — terutama mata, hidung, dan mulut — sebelum mencuci tangan dengan bersih.
Pengendalian populasi tikus di sekitar rumah adalah langkah pencegahan jangka panjang yang sangat penting mengingat tikus adalah reservoir utama bakteri leptospira. Menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat, membuang sampah dengan benar, menutup lubang-lubang yang bisa menjadi jalur masuk tikus, dan menjaga kebersihan lingkungan secara umum adalah langkah-langkah yang efektif.
FAQ: Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Leptospirosis
Apakah leptospirosis bisa disembuhkan?
Ya, leptospirosis bisa disembuhkan dengan antibiotik jika didiagnosis dan diobati dengan cepat. Kunci keberhasilannya adalah deteksi dini dan pemberian antibiotik yang segera — semakin cepat pengobatan dimulai, semakin kecil risiko komplikasi serius dan kematian. Itulah mengapa sangat penting untuk segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala yang mencurigakan setelah paparan air banjir, tanpa menunggu gejala semakin memburuk.
Berapa lama masa inkubasi leptospirosis?
Masa inkubasi leptospirosis — yaitu waktu antara paparan bakteri dan munculnya gejala pertama — berkisar antara dua hingga tiga puluh hari, dengan rata-rata sekitar lima hingga empat belas hari. Ini berarti seseorang yang terpapar air banjir bisa mulai merasakan gejala bahkan dua minggu atau lebih setelah banjir surut, sehingga hubungan antara banjir dan penyakit yang dialami sering kali tidak langsung disadari.
Apakah leptospirosis menular dari manusia ke manusia?
Dalam kondisi normal, leptospirosis tidak menular dari satu manusia ke manusia lain secara langsung. Penularan hampir selalu terjadi melalui kontak dengan lingkungan — air, tanah, atau lumpur — yang terkontaminasi oleh urine hewan yang terinfeksi. Ini berarti merawat penderita leptospirosis tidak menimbulkan risiko penularan kepada perawatnya, selama kebersihan dasar tetap dijaga.
Apakah ada obat pencegahan yang bisa diminum sebelum terpapar?
Doksisiklin dalam dosis rendah pernah digunakan sebagai profilaksis — pencegahan — untuk orang-orang yang akan terpapar risiko tinggi dalam jangka pendek, seperti petugas respons bencana atau peserta olahraga air di perairan berisiko. Namun keputusan untuk menggunakan profilaksis ini harus berdasarkan rekomendasi dokter setelah mempertimbangkan risiko, manfaat, dan kondisi kesehatan masing-masing individu.
Berapa lama proses pemulihan dari leptospirosis?
Untuk kasus ringan yang ditangani dengan baik, pemulihan biasanya berlangsung dalam dua hingga empat minggu. Untuk kasus berat yang sudah melibatkan komplikasi organ, proses pemulihan bisa jauh lebih lama — berbulan-bulan — dan beberapa penderita mungkin mengalami dampak jangka panjang terutama pada fungsi ginjal. Kelelahan yang berkepanjangan bahkan setelah gejala akut mereda juga umum dilaporkan dan bisa berlangsung berminggu-minggu.
Penutup: Banjir Surut, Kewaspadaan Jangan Ikut Surut
Leptospirosis adalah pengingat yang keras bahwa dampak banjir tidak berakhir ketika air surut. Ancaman kesehatan yang ditinggalkan oleh banjir — termasuk leptospirosis — bisa berlangsung selama berminggu-minggu setelah air kembali ke tempatnya.
Kewaspadaan pasca banjir bukan paranoia — ini adalah respons yang rasional terhadap risiko yang nyata dan terdokumentasi dengan baik. Gunakan perlindungan ketika harus berkontak dengan air atau lumpur sisa banjir, jangan abaikan gejala yang muncul terutama dalam dua hingga empat minggu pasca paparan, dan segera cari bantuan medis dengan menyebutkan riwayat paparan air banjirmu kepada dokter.
Ingat selalu: demam tinggi yang datang tiba-tiba disertai nyeri betis yang intens setelah terpapar air banjir adalah kombinasi gejala yang harus langsung menimbulkan kecurigaan leptospirosis. Jangan tunggu sampai gejala memburuk — karena dalam kasus leptospirosis, waktu benar-benar adalah nyawa.
Jangan lupa follow media sosial kami:
https://www.instagram.com/klinikfakta?igsh=MTU4ZGg1YjVrZHdhYQ==



