
Demam Itu Tidak Biasa — Tapi Banyak yang Tidak Menyadarinya
Seorang petani di pedalaman Papua pulang kerja saat matahari mulai terbenam. Malamnya, ia menggigil hebat meski selimut sudah berlapis. Beberapa jam kemudian badannya memanas — demam tinggi yang membuat kepalanya seperti mau pecah. Lalu berkeringat deras, dan merasa sedikit lebih baik. Esoknya tampak membaik. Lusa, siklus itu kembali.
Di kota besar, seorang mahasiswa baru pulang dari kegiatan pengabdian masyarakat di Kalimantan. Ia pikir masuk angin karena kelelahan perjalanan. Diminum parasetamol, istirahat, tidak membaik. Satu minggu kemudian ia dibawa ke IGD dengan kondisi kesadaran menurun.
Kedua orang ini mengalami hal yang sama: malaria — penyakit yang masih menjadi salah satu pembunuh terbesar di dunia, namun kerap salah dikenali, terlambat ditangani, atau diremehkan karena dianggap “hanya demam biasa.”
Di Indonesia, malaria bukan sekadar penyakit masa lalu. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan masih ada ratusan ribu kasus setiap tahun, terkonsentrasi di wilayah timur Indonesia — Papua, Papua Barat, Maluku, Nusa Tenggara Timur — namun dengan risiko yang nyata bagi siapapun yang memasuki daerah endemis tanpa perlindungan yang memadai.
Dan inilah yang perlu dipahami sejak awal: dalam kasus malaria, terlambat mengenali dan menangani bisa berarti kematian. Tapi lebih dari itu, malaria adalah penyakit yang seharusnya tidak perlu terjadi jika pencegahan dilakukan dengan benar.
Apa Itu Malaria?
Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium, yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk betina Anopheles yang terinfeksi.
Berbeda dari demam berdarah yang disebabkan virus, atau TBC yang disebabkan bakteri, penyebab malaria adalah parasit bersel satu yang memiliki siklus hidup kompleks — sebagian di dalam tubuh nyamuk, sebagian di dalam tubuh manusia. Kompleksitas inilah yang membuat malaria sulit dieradikasi, mudah kambuh, dan pada jenis tertentu, sangat mematikan dalam hitungan jam.
WHO melaporkan pada tahun 2022 terdapat sekitar 249 juta kasus malaria di seluruh dunia, dengan lebih dari 600.000 kematian — mayoritas adalah anak-anak di bawah 5 tahun di Afrika Sub-Sahara. Namun Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tetap menjadi wilayah dengan beban malaria yang signifikan.
Empat Spesies Plasmodium yang Menginfeksi Manusia
| Spesies | Karakteristik | Tingkat Bahaya |
| P. falciparum | Paling umum, paling mematikan — dapat menyebabkan malaria serebral | ⚠️ Sangat Tinggi |
| P. vivax | Umum di Asia termasuk Indonesia, dapat kambuh bertahun-tahun | Tinggi |
| P. malariae | Infeksi kronis, jarang mematikan | Sedang |
| P. ovale | Mirip vivax, lebih jarang ditemukan | Sedang |
| P. knowlesi | Dari monyet, ditemukan di Kalimantan dan Malaysia | Tinggi |
Bagaimana Malaria Ditularkan?
Mekanisme Penularan Utama: Gigitan Nyamuk Anopheles
Siklus penularan malaria melibatkan dua inang: nyamuk dan manusia.
Ketika nyamuk Anopheles betina menggigit penderita malaria, ia menghisap darah yang mengandung gametosit (sel reproduksi parasit). Di dalam tubuh nyamuk, parasit berkembang dan bermigrasi ke kelenjar liur nyamuk dalam bentuk sporozoit.
Ketika nyamuk yang sama menggigit manusia sehat, sporozoit disuntikkan bersama air liur nyamuk ke dalam aliran darah. Dari sana, parasit menuju hati, berkembang biak di dalam sel hati selama 1–2 minggu, lalu dilepaskan kembali ke darah dalam bentuk merozoit yang menyerang sel darah merah — dan inilah yang menyebabkan semua gejala malaria.
Anopheles betina hanya menggigit pada malam hari — terutama antara senja hingga fajar. Ini informasi penting untuk strategi pencegahan.
Cara Penularan Lain yang Lebih Jarang
- Transfusi darah dari donor yang terinfeksi malaria
- Berbagi jarum suntik pada pengguna narkoba
- Penularan dari ibu ke janin (malaria kongenital) melalui plasenta
- Transplantasi organ dari donor yang terinfeksi
Malaria tidak menular dari orang ke orang secara langsung — Anda tidak bisa tertular hanya dengan berada dekat penderita malaria.
Faktor Risiko: Siapa yang Paling Rentan?
Berdasarkan Lokasi Geografis
Risiko tertinggi berada di wilayah endemis malaria di Indonesia:
- Papua dan Papua Barat — angka insiden tertinggi di Indonesia
- Maluku dan Maluku Utara
- Nusa Tenggara Timur
- Kalimantan — terutama wilayah pedalaman dan hutan
- Sulawesi bagian tertentu
Siapapun yang memasuki wilayah ini — wisatawan, pendatang, pekerja proyek, mahasiswa KKN, tenaga kesehatan, atau peneliti — membawa risiko yang sama dengan penduduk setempat jika tidak mengambil langkah pencegahan.
Berdasarkan Kelompok Populasi
Anak-anak di bawah 5 tahun Kelompok yang paling rentan mengalami malaria berat dan kematian — sistem imun mereka belum cukup matang untuk merespons infeksi parasit secara efektif.
Ibu hamil Malaria pada kehamilan meningkatkan risiko anemia berat, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan kematian ibu maupun bayi. P. falciparum dapat menumpuk di plasenta dan sangat berbahaya bagi janin.
Wisatawan dan Pendatang (Non-imun) Orang yang belum pernah terpapar malaria sebelumnya tidak memiliki kekebalan apapun. Kasus malaria berat lebih sering terjadi pada kelompok ini dibanding penduduk lokal yang memiliki kekebalan parsial dari paparan berulang sejak kecil.
Orang dengan Gangguan Imun Penderita HIV/AIDS, orang yang menjalani kemoterapi, atau pengguna obat imunosupresan lebih rentan mengalami infeksi berat.
Faktor Lingkungan yang Memperparah Risiko
- Tinggal atau bekerja di dekat genangan air, sawah, rawa, atau hutan yang menjadi habitat nyamuk Anopheles
- Tidak menggunakan kelambu atau tidak memasang kasa nyamuk
- Beraktivitas di luar ruangan pada malam hari tanpa perlindungan
- Tidak menggunakan pakaian pelindung atau losion antinyamuk
Gejala Malaria: Dari Ringan Hingga Mengancam Jiwa
Masa Inkubasi
Gejala malaria biasanya muncul 7–14 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi, tergantung spesies Plasmodium. Namun P. vivax dan P. ovale memiliki bentuk dorman di hati (hipnozoit) yang bisa aktif kembali berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kemudian — menyebabkan kambuhnya malaria jauh setelah meninggalkan daerah endemis.
Gejala Khas Malaria: Trias Malaria
Malaria memiliki tiga gejala khas yang dikenal sebagai trias malaria, yang terjadi dalam siklus berulang:
1. Menggigil (Cold Stage) — 15 menit hingga 1 jam Tubuh tiba-tiba menggigil hebat, gigi bergerak, seluruh badan terasa sangat dingin meski suhu tubuh mulai naik. Penderita sering membutuhkan banyak selimut namun tidak merasa hangat.
2. Demam Tinggi (Hot Stage) — 2–6 jam Suhu tubuh melonjak drastis, bisa mencapai 40–41°C. Kepala berdenyut, mual dan muntah mungkin terjadi, kulit terasa sangat panas dan kemerahan.
3. Berkeringat Deras (Sweating Stage) — 2–4 jam Demam turun mendadak disertai keringat yang mengucur deras. Penderita merasa sangat lelah namun kondisi membaik sementara.
Siklus ini berulang dengan pola yang khas tergantung spesiesnya: setiap 48 jam untuk P. vivax dan P. falciparum (tertiana), dan setiap 72 jam untuk P. malariae (kuartana).
Gejala Penyerta Lainnya
- Nyeri kepala yang intens
- Nyeri otot dan sendi di seluruh tubuh
- Mual, muntah, dan diare
- Nyeri perut, terutama di area hati dan limpa
- Kelelahan ekstrem
- Batuk (terutama pada anak-anak)
- Anemia yang berkembang seiring kerusakan sel darah merah
Malaria Berat: Tanda-Tanda Darurat
P. falciparum dapat berkembang menjadi malaria berat dalam hitungan jam, terutama pada anak-anak dan orang non-imun. Segera ke IGD jika muncul:
- Penurunan atau hilangnya kesadaran — malaria serebral (cerebral malaria)
- Kejang berulang
- Sesak napas atau napas sangat cepat
- Urin berwarna sangat gelap seperti teh pekat atau hitam (blackwater fever) — tanda hemolisis masif
- Perdarahan yang tidak normal
- Kulit, mata, atau kuku berwarna kekuningan (jaundice)
- Tidak bisa berdiri atau berjalan
- Tidak mau makan atau minum sama sekali
Malaria berat adalah kondisi darurat medis — penundaan penanganan bahkan beberapa jam bisa berakibat fatal.
Diagnosis: Konfirmasi Adalah Kunci
Salah satu prinsip terpenting dalam manajemen malaria modern adalah: jangan mengobati malaria tanpa konfirmasi diagnosis yang tepat. Pengobatan tanpa diagnosis yang benar memperburuk masalah resistensi obat malaria secara global.
Pemeriksaan Mikroskopik — Standar Emas
Apusan darah tebal dan tipis yang diperiksa di bawah mikroskop oleh tenaga terlatih tetap menjadi standar diagnosis malaria. Pemeriksaan ini dapat:
- Mengkonfirmasi adanya parasit malaria
- Mengidentifikasi spesies Plasmodium
- Menghitung kepadatan parasit (penting untuk menilai keparahan)
- Memantau respons pengobatan
Rapid Diagnostic Test (RDT) — Tes Cepat
RDT atau Tes Cepat Malaria adalah alat diagnostik berbasis deteksi antigen yang dapat memberikan hasil dalam 15–20 menit, bahkan di fasilitas kesehatan yang tidak memiliki mikroskop. Sangat berguna di daerah terpencil dan dalam situasi darurat. Kelemahannya: tidak dapat menghitung kepadatan parasit dan beberapa jenis memiliki sensitivitas yang lebih rendah dibanding mikroskopi.
PCR (Polymerase Chain Reaction)
Metode paling akurat namun mahal dan membutuhkan laboratorium khusus. Digunakan untuk mengkonfirmasi kasus yang meragukan, mengidentifikasi infeksi campuran (mixed infection), atau mendeteksi parasit pada kepadatan sangat rendah.
Pemeriksaan Penunjang
Selain diagnosis parasitologi, dokter juga akan melakukan:
- Pemeriksaan darah lengkap — untuk menilai anemia dan trombositopenia (penurunan trombosit)
- Fungsi ginjal dan hati — untuk menilai keterlibatan organ
- Gula darah — hipoglikemia sering menyertai malaria berat
- Foto Rontgen dada — jika dicurigai ada keterlibatan paru
Pengobatan Malaria: Tepat Spesies, Tepat Dosis, Tuntas
Pengobatan malaria harus dimulai secepat mungkin setelah diagnosis dikonfirmasi dan harus disesuaikan dengan spesies Plasmodium yang menginfeksi, tingkat keparahan, usia penderita, kondisi kehamilan, dan pola resistensi lokal.
Pengobatan Malaria Tanpa Komplikasi
Untuk P. falciparum (dan mixed infection dengan falciparum): Program nasional Indonesia menggunakan ACT (Artemisinin-based Combination Therapy) sebagai lini pertama:
- Artemisinin + Lumefantrin (AL) atau
- Dihydroartemisinin + Piperaquine (DHP) — yang saat ini menjadi pilihan utama dalam program nasional Indonesia, diberikan selama 3 hari
Kombinasi ini dirancang untuk mencegah resistensi dengan cara menyerang parasit melalui dua mekanisme berbeda secara bersamaan.
Untuk P. vivax, P. ovale (dengan risiko kambuh):
- Klorokuin (jika belum resisten) dikombinasikan dengan
- Primakuin selama 14 hari — untuk membasmi bentuk dorman (hipnozoit) di hati yang bisa menyebabkan kambuh
Penting: Sebelum memberikan primakuin, pemeriksaan defisiensi enzim G6PD diperlukan karena primakuin dapat menyebabkan hemolisis berbahaya pada penderita dengan kondisi ini.
Pengobatan Malaria Berat
Malaria berat memerlukan rawat inap dan pengobatan intravena:
- Artesunate intravena adalah terapi pilihan utama — terbukti lebih efektif dan lebih aman dari kina dalam studi klinis besar
- Jika artesunate IV tidak tersedia, kina (quinine) dapat digunakan sebagai alternatif
- Penanganan suportif: transfusi darah (jika anemia berat), penanganan kejang, manajemen cairan yang hati-hati, dan pemantauan gula darah secara ketat
Malaria pada Kehamilan
Penanganan malaria pada ibu hamil memerlukan pertimbangan khusus karena beberapa obat antimalaria tidak aman untuk janin:
- Trimester 1: Kina + klindamisin (hindari artemisinin jika memungkinkan)
- Trimester 2 dan 3: ACT dapat digunakan dan saat ini direkomendasikan oleh WHO
- Primakuin dikontraindikasikan selama kehamilan
Perawatan Mandiri yang Mendukung Pemulihan
Sambil menjalani pengobatan medis, penderita malaria dianjurkan:
- Istirahat total hingga demam mereda sepenuhnya
- Minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi dan membantu ginjal
- Konsumsi makanan bergizi yang mudah dicerna — kaldu, bubur, buah
- Parasetamol untuk membantu menurunkan demam (hindari aspirin dan ibuprofen, terutama pada anak)
- Jangan menghentikan obat antimalaria sebelum dosis selesai, meski sudah merasa lebih baik — ini sangat penting untuk mencegah kambuh dan resistensi
- Tetap menggunakan kelambu selama masa pemulihan untuk mencegah nyamuk menghisap darah yang masih mengandung parasit dan menularkan ke orang lain
Pencegahan: Inilah Mengapa Lebih Baik dari Pengobatan
Pengobatan malaria memang ada dan cukup efektif — tetapi prosesnya panjang, efek sampingnya nyata, risikonya serius, dan pada kasus berat, nyawa sudah menjadi taruhannya. Inilah mengapa pencegahan malaria bukan sekadar pilihan — ini adalah keharusan, terutama bagi siapapun yang tinggal di atau mengunjungi daerah endemis.
Strategi 1 — Perlindungan dari Gigitan Nyamuk (Barrier Protection)
Karena nyamuk Anopheles menggigit antara senja dan fajar, perlindungan di malam hari adalah prioritas utama:
Kelambu berinsektisida (LLIN — Long-lasting Insecticidal Nets) Tidur di bawah kelambu yang diresapi insektisida adalah salah satu intervensi paling efektif dan hemat biaya dalam mencegah malaria. Program pemerintah telah mendistribusikan LLIN di banyak daerah endemis Indonesia — pastikan kelambu Anda dalam kondisi baik dan digunakan dengan benar setiap malam.
Losion atau semprotan antinyamuk (repelen) Gunakan repelen yang mengandung DEET (N,N-diethyl-meta-toluamide) minimal 20–30%, Picaridin, atau IR3535 pada kulit yang terbuka. Aplikasikan setiap 4–6 jam saat berada di luar ruangan pada malam hari. Untuk anak-anak, konsultasikan konsentrasi yang aman dengan dokter.
Pakaian pelindung Kenakan baju lengan panjang dan celana panjang berwarna terang (nyamuk cenderung tertarik pada warna gelap) saat beraktivitas di luar pada sore dan malam hari. Pakaian bisa disemprot dengan permetrin untuk perlindungan tambahan.
Penyemprotan residual dalam ruangan (IRS) Penyemprotan dinding dan langit-langit rumah dengan insektisida kerja panjang oleh petugas kesehatan adalah strategi berbasis komunitas yang terbukti efektif di daerah endemis tinggi.
Kasa nyamuk dan AC Pasang kasa nyamuk di jendela dan pintu. Nyamuk Anopheles tidak tahan udara dingin — menggunakan AC atau kipas angin juga dapat mengurangi risiko gigitan.
Strategi 2 — Kemoprofilaksis (Obat Pencegah Malaria)
Bagi wisatawan, pekerja, atau siapapun yang akan memasuki daerah endemis malaria tinggi untuk jangka waktu tertentu, obat antimalaria profilaksis direkomendasikan:
- Doksisiklin — paling umum digunakan, dimulai 1–2 hari sebelum masuk daerah endemis, diminum setiap hari, dan dilanjutkan 4 minggu setelah meninggalkan daerah endemis. Harus diminum bersama makanan dan dihindari paparan sinar matahari berlebihan karena dapat menyebabkan fotosensitivitas
- Meflokuin (Lariam) — diminum seminggu sekali, dimulai 2–3 minggu sebelum perjalanan. Dapat menyebabkan efek samping neuropsikiatrik pada sebagian orang
- Atovakuon/Proguanil (Malarone) — dimulai 1–2 hari sebelum dan dilanjutkan 7 hari setelah, lebih sedikit efek samping namun lebih mahal
Penting: Konsultasikan dengan dokter atau klinik kesehatan perjalanan (travel medicine clinic) sebelum memutuskan profilaksis mana yang paling tepat untuk Anda — tergantung tujuan, durasi, kondisi kesehatan, dan obat lain yang sedang dikonsumsi.
Strategi 3 — Pengendalian Vektor Berbasis Komunitas
Pencegahan malaria bukan hanya tanggung jawab individu — lingkungan yang bersih dan komunitas yang waspada adalah pertahanan kolektif yang tidak kalah penting:
- Drainase genangan air di sekitar rumah — ban bekas, ember, tempat minum burung, pot tanaman — semua yang menampung air bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk Anopheles
- Tebar ikan pemakan jentik (seperti ikan guppy atau nila) di kolam atau bak air yang tidak bisa dikuras
- Gotong royong membersihkan lingkungan — terutama di musim hujan ketika populasi nyamuk meledak
- Segera laporkan kasus demam yang mencurigakan kepada Puskesmas — deteksi dini satu kasus bisa mencegah penyebaran ke puluhan orang lain
Strategi 4 — Deteksi dan Pengobatan Dini
Pencegahan yang paling diabaikan namun paling penting: jika Anda mengalami demam setelah berada di atau kembali dari daerah endemis, segera periksakan diri.
Jangan tunggu sampai “beberapa hari lagi.” Jangan anggap itu hanya masuk angin atau kelelahan. Jangan minum obat warung sembarangan. Minta tes malaria — di Puskesmas, tes ini tersedia gratis.
Pengobatan yang dimulai di awal jauh lebih mudah, lebih murah, lebih pendek, dan jauh lebih aman dibanding menangani malaria berat yang sudah terlambat terdeteksi.
Vaksin Malaria: Harapan Baru dari Dunia Medis
Kabar yang menggembirakan: vaksin malaria pertama di dunia — RTS,S/AS01 (nama dagang: Mosquirix) — telah mendapat rekomendasi dari WHO pada Oktober 2021 dan mulai diimplementasikan di beberapa negara Afrika.
Vaksin ini ditujukan untuk anak-anak terhadap P. falciparum dan mampu mengurangi kasus malaria berat hingga sekitar 30%. Angka ini memang tidak setinggi vaksin untuk penyakit lain, namun dalam konteks jutaan kasus malaria setiap tahunnya, dampaknya sangat signifikan.
Vaksin generasi kedua, R21/Matrix-M, menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dalam uji klinis awal dan saat ini dalam proses evaluasi regulatori di berbagai negara.
Untuk Indonesia, implementasi vaksin malaria masih dalam tahap pengkajian. Namun ini adalah sinyal positif bahwa upaya global menuju eradikasi malaria terus bergerak maju.
Tips Praktis untuk Perjalanan ke Daerah Endemis
Jika Anda berencana bepergian ke daerah endemis malaria di Indonesia — untuk wisata, kerja, penelitian, atau pengabdian masyarakat — siapkan langkah-langkah berikut jauh sebelum keberangkatan:
Kunjungi dokter atau klinik kesehatan perjalanan minimal 4–6 minggu sebelum berangkat untuk konsultasi dan mendapatkan profilaksis yang tepat. Bawa persediaan repelen DEET yang cukup untuk seluruh durasi perjalanan. Bawa kelambu portabel jika belum yakin akomodasi menyediakan. Kenali gejala malaria dan tahu ke mana harus pergi jika gejala muncul di lokasi tujuan. Setelah kembali, waspadai demam dalam 3 bulan ke depan — segera tes jika muncul gejala yang mencurigakan, dan informasikan kepada dokter bahwa Anda baru pulang dari daerah endemis.
Penutup: Malaria Bisa Dicegah — dan Itulah yang Harus Diprioritaskan
Dari semua yang telah dibahas dalam artikel ini, satu kesimpulan paling kuat adalah ini: malaria adalah penyakit yang bisa dicegah secara efektif, tetapi masih menewaskan ratusan ribu orang setiap tahun — bukan karena tidak ada cara mencegahnya, melainkan karena pencegahan itu tidak dilakukan.
Setiap kelambu yang tidak digunakan, setiap dosis profilaksis yang dilewatkan, setiap genangan air yang dibiarkan, setiap demam yang dianggap sepele — semuanya adalah peluang yang terlewat untuk menyelamatkan nyawa.
Jika Anda tinggal di daerah endemis: gunakan kelambu setiap malam, bersihkan lingkungan, dan segera periksa diri jika demam. Jika Anda akan mengunjungi daerah endemis: konsultasikan dengan dokter, minum profilaksis, dan lindungi diri Anda dari gigitan nyamuk.
Dan jika Anda baru kembali dari daerah endemis dan merasakan demam — jangan tunda. Pergi tes. Sekarang.
Karena dalam kasus malaria, waktu bukan hanya uang. Waktu adalah nyawa.
Jangan lupa follow media sosial kami:
https://www.instagram.com/klinikfakta?igsh=MTU4ZGg1YjVrZHdhYQ==



