
“Saya Kira Hanya Jerawat atau Gigitan Serangga…”
Itulah yang paling sering diucapkan oleh pasien mpox ketika pertama kali memperhatikan benjolan kecil di kulitnya.
Semuanya dimulai dengan rasa lelah yang tidak biasa. Mungkin sedikit demam, kepala terasa berat, tenggorokan sedikit sakit. Banyak yang mengira kelelahan karena pekerjaan, atau flu biasa yang akan sembuh sendiri dalam beberapa hari.
Lalu muncul benjolan. Satu dulu, di wajah atau leher. Kemudian beberapa lagi di dada, tangan, dan area genital. Benjolan itu terasa sakit, berbeda dari jerawat biasa. Tapi karena tidak ada yang tahu pasti itu apa, banyak yang menunggu — berharap hilang sendiri.
Padahal selama menunggu itu, mereka sudah berpotensi menularkan kepada orang-orang di sekitarnya.
Mpox — yang dulu dikenal dengan nama cacar monyet — adalah salah satu penyakit yang paling sering salah dikenali di fase awalnya. Bukan karena gejalanya tersembunyi, melainkan karena kita tidak terbiasa mengenalinya. Dan ketidaktahuan itulah yang membuat penyakit ini terus menyebar lebih jauh dari seharusnya.
Pada Agustus 2024, WHO kembali menetapkan mpox sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) — darurat kesehatan global — menyusul meningkatnya kasus varian baru yang lebih agresif di Afrika. Ini adalah pengingat bahwa mpox bukan isu yang bisa diabaikan.
Artikel ini hadir untuk mengubah ketidaktahuan menjadi kewaspadaan yang tepat: mengenali mpox sejak tanda pertamanya, memahami cara penularannya, dan mengetahui apa yang harus dilakukan jika Anda atau orang terdekat mengalaminya.
Apa Itu Mpox?
Mpox (monkeypox) adalah penyakit infeksi virus zoonosis — artinya, penyakit yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia — yang disebabkan oleh virus Monkeypox (MPXV), anggota dari genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. Virus ini masih satu keluarga dengan virus cacar (smallpox) dan vaksin cacar yang pernah digunakan secara massal di masa lalu terbukti memberikan perlindungan silang terhadap mpox.
Meski namanya mengandung kata “monyet”, monyet sebenarnya bukan reservoir utama virus ini. Virus monkeypox pertama kali diisolasi dari koloni monyet laboratorium di Denmark pada 1958 — itulah asal nama tersebut. Namun reservoir alami yang sesungguhnya diduga adalah hewan pengerat kecil seperti tupai, tikus pohon, dan mencit di hutan-hutan Afrika — terutama Afrika Barat dan Afrika Tengah.
Kasus pertama pada manusia tercatat pada 1970 di Republik Demokratik Kongo. Selama beberapa dekade, mpox dianggap penyakit endemik Afrika yang jarang keluar dari batas kontinennya. Semua berubah pada 2022, ketika mpox menyebar secara simultan ke lebih dari 100 negara di luar Afrika dalam waktu singkat — memicu penetapan PHEIC pertama oleh WHO. Indonesia pun tidak luput mencatat kasus-kasus impor maupun transmisi lokal.
Dua Klad (Varian) Utama Mpox
Virus mpox saat ini dikenal dalam dua kelompok genetik (klad) dengan karakteristik berbeda:
| Klad | Nama Lama | Wilayah Asal | Tingkat Keparahan | Status Terkini |
| Klad I | Congo Basin / Afrika Tengah | RD Kongo, Afrika Tengah | Lebih tinggi — CFR hingga 10% pada populasi yang tidak kebal | Penyebab wabah 2024 yang memicu PHEIC baru |
| Klad II | Afrika Barat | Afrika Barat, global 2022 | Lebih rendah — CFR sekitar 0,1–3% | Dominan pada wabah global 2022–2023 |
Klad I — khususnya subvarian Klad Ib — menjadi perhatian serius WHO pada 2024 karena menunjukkan kemampuan transmisi antar manusia yang lebih efisien, termasuk melalui kontak seksual, dibanding pola penularan historisnya.
Bagaimana Mpox Menular?
Pemahaman tentang cara penularan mpox sangat penting — baik untuk menghindari stigmatisasi yang tidak perlu maupun untuk mengambil langkah pencegahan yang tepat sasaran.
Dari Hewan ke Manusia (Zoonosis)
Penularan dari hewan ke manusia terjadi melalui:
- Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi: digigit, dicakar, atau menyentuh darah, cairan tubuh, atau lesi kulit hewan yang terinfeksi
- Mengonsumsi daging hewan liar (bushmeat) yang tidak dimasak sempurna
- Hewan yang berisiko: hewan pengerat (tupai, tikus pohon, mencit), primata, dan mamalia kecil lainnya di hutan tropis Afrika
Dari Manusia ke Manusia
Penularan antara manusia memerlukan kontak yang relatif dekat dan langsung:
Kontak fisik langsung dengan lesi (ruam) Ini adalah jalur utama penularan. Menyentuh ruam, luka, keropeng, atau cairan yang keluar dari lesi penderita mpox dapat memindahkan virus ke kulit atau selaput lendir orang lain. Ini mencakup kontak seksual maupun kontak non-seksual seperti merawat anggota keluarga yang sakit.
Kontak dengan selaput lendir Virus dapat masuk melalui selaput lendir mulut, hidung, mata, alat kelamin, atau dubur — bahkan tanpa adanya luka terbuka.
Droplet pernapasan jarak dekat Kontak tatap muka dalam jarak dekat dan waktu yang lama dengan penderita yang memiliki lesi di mulut atau tenggorokan dapat menularkan virus melalui droplet. Ini bukan penularan airborne seperti COVID-19 — artinya tidak mudah menyebar di ruangan ber-AC biasa.
Kontak dengan benda yang terkontaminasi (fomit) Pakaian, sprei, handuk, atau benda lain yang bersentuhan langsung dengan lesi atau cairan tubuh penderita dapat menjadi perantara penularan, meski jalur ini kurang efisien dibanding kontak langsung.
Dari ibu hamil ke janin Virus dapat menembus plasenta dan menginfeksi janin (mpox kongenital), atau menular kepada bayi baru lahir selama atau setelah persalinan melalui kontak kulit ke kulit.
Konteks Penularan yang Perlu Dipahami
Pada wabah global 2022, mpox menyebar terutama melalui jaringan kontak seksual antara pria yang berhubungan seks dengan pria (MSM) — bukan karena mpox adalah penyakit menular seksual secara eksklusif, tetapi karena kontak kulit ke kulit yang intens dan berkepanjangan selama hubungan seksual menciptakan kondisi ideal untuk penularan.
Namun sangat penting ditekankan: mpox dapat menginfeksi siapapun melalui kontak fisik yang cukup dekat dengan penderita, tanpa memandang orientasi seksual, jenis kelamin, atau latar belakang apapun. Stigmatisasi terhadap kelompok tertentu tidak hanya tidak adil, tetapi juga kontraproduktif terhadap upaya pengendalian wabah.
Faktor Risiko: Siapa yang Paling Rentan?
Risiko tertular mpox lebih tinggi pada:
Orang yang pernah kontak fisik dekat dengan penderita mpox yang terkonfirmasi Ini adalah faktor risiko paling langsung — baik dalam konteks rumah tangga, perawatan, maupun kontak seksual.
Orang yang bepergian ke atau baru kembali dari wilayah endemis Afrika Tengah (terutama RD Kongo, Burundi, Rwanda) saat ini merupakan episentrum wabah Klad I yang aktif. Risiko terpapar meningkat signifikan bagi pelancong ke wilayah ini.
Tenaga kesehatan Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lain yang merawat pasien mpox tanpa Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai berisiko terpapar melalui kontak dengan lesi pasien.
Orang yang tinggal serumah dengan penderita mpox Kontak erat dalam rumah tangga yang sama — berbagi tempat tidur, handuk, atau peralatan makan — meningkatkan risiko penularan.
Orang dengan sistem imun yang lemah Penderita HIV/AIDS, keganasan hematologi, atau yang menjalani terapi imunosupresan berisiko lebih tinggi mengalami mpox yang lebih parah dan komplikasi yang lebih berat.
Orang yang belum pernah mendapat vaksin cacar Program vaksinasi cacar global dihentikan setelah eradikasi cacar pada 1980. Generasi yang lahir setelah era itu tidak memiliki kekebalan silang terhadap mpox dari vaksin cacar, sehingga lebih rentan.
Gejala Mpox: Mengenali dari Tanda Pertama
Inilah inti dari artikel ini — mengenali mpox sejak dini, sebelum ruam menyebar dan sebelum penularan lebih lanjut terjadi.
Masa Inkubasi
Setelah terpapar virus, gejala biasanya muncul dalam 5–21 hari — dengan rata-rata sekitar 6–13 hari. Selama periode inkubasi ini, seseorang belum menunjukkan gejala dan umumnya belum menular.
Fase 1 — Gejala Prodromal (1–5 hari pertama sebelum ruam)
Inilah yang paling sering tidak disadari atau disalahartikan. Gejala awal mpox menyerupai flu atau infeksi virus umum:
- Demam — biasanya 38–39°C, kadang lebih tinggi
- Sakit kepala — bisa ringan hingga berdenyut-denyut
- Nyeri punggung dan otot — terasa seperti pegal setelah olahraga berat
- Kelelahan dan lemas yang tidak proporsional dengan aktivitas
- Pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati) — ini adalah tanda yang membedakan mpox dari cacar biasa. Kelenjar getah bening di leher, ketiak, atau selangkangan terasa membesar dan nyeri saat disentuh
- Sakit tenggorokan dan batuk (pada beberapa kasus)
- Nyeri atau pembengkakan di area rektal — gejala yang signifikan pada kasus yang ditularkan melalui kontak seksual anal
Kunci pengenalan dini: Pembengkakan kelenjar getah bening yang menyertai demam adalah tanda paling khas mpox yang membedakannya dari flu biasa atau COVID-19. Jika Anda mengalami demam disertai benjolan nyeri di leher, ketiak, atau selangkangan — segera waspada dan hindari kontak dekat dengan orang lain.
Fase 2 — Munculnya Ruam (Hari ke-1 hingga ke-3 setelah demam)
Setelah gejala prodromal, ruam khas mpox mulai muncul. Ini adalah tanda yang paling dapat dikenali namun sering disalahartikan:
Pola penyebaran yang khas Ruam biasanya dimulai dari wajah, kemudian menyebar ke bagian tubuh lain dalam pola sentrifugal (dari pusat ke tepi) — ke telapak tangan, telapak kaki, lengan, kaki, dan batang tubuh. Pada kasus yang terkait kontak seksual, ruam bisa pertama kali muncul di area genital, dubur, atau mulut.
Evolusi lesi yang progresif dan khas Ini adalah ciri paling diagnostik mpox: lesi berkembang melalui tahapan yang berurutan dalam satu individu:
- Makula → bercak datar kemerahan
- Papula → benjolan padat yang menonjol
- Vesikel → berisi cairan bening
- Pustula → berisi cairan keruh/nanah, sering terasa nyeri
- Krusta → mengering dan membentuk keropeng
- Resolusi → keropeng lepas, meninggalkan bekas luka atau hiperpigmentasi
Seluruh siklus ini berlangsung 2–4 minggu. Yang khas: semua lesi pada tubuh seseorang berada di tahap yang sama pada waktu yang sama — berbeda dari cacar air dimana lesi muncul dalam beberapa gelombang di tahap berbeda-beda.
Jumlah dan distribusi lesi Jumlah lesi sangat bervariasi — dari beberapa saja hingga ribuan yang menutupi seluruh tubuh. Pada wabah 2022, banyak kasus menunjukkan pola yang tidak biasa: jumlah lesi lebih sedikit dan distribusinya lebih terlokalisir di area genital atau sekitar wajah.
Kapan Harus Segera ke Dokter atau IGD?
Segera cari pertolongan medis jika:
- Muncul ruam atau lesi kulit yang tidak jelas penyebabnya, terutama jika disertai demam dan pembengkakan kelenjar getah bening
- Lesi muncul di area mata — mpox dapat menyebabkan keratitis dan bahkan kebutaan
- Kesulitan menelan atau sesak napas
- Kebingungan mendadak atau penurunan kesadaran
- Gejala memburuk secara cepat
- Anda memiliki HIV atau kondisi immunokompromis lainnya
Diagnosis: Jangan Tunda, Jangan Spekulasi
Karena gejala mpox bisa menyerupai banyak kondisi lain — cacar air, herpes simpleks, sifilis, molluscum contagiosum, atau bahkan reaksi alergi kulit — diagnosis harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, bukan berdasarkan penampilan lesi saja.
Pemeriksaan Laboratorium
PCR (Polymerase Chain Reaction) — Standar Diagnosis Sampel diambil dari kerokan lesi, cairan vesikel/pustula, atau keropeng lesi menggunakan swab. PCR mendeteksi materi genetik (DNA) virus mpox dan saat ini menjadi metode diagnostik standar yang paling akurat dan paling tersedia di Indonesia.
Sequencing Genetik Dilakukan untuk mengidentifikasi klad (varian) dan melacak rantai penularan untuk keperluan epidemiologi — penting untuk respons kesehatan masyarakat.
Pemeriksaan Penunjang Lain
- Pemeriksaan darah lengkap dan fungsi organ
- Tes HIV — mengingat koinfeksi HIV dan mpox memperburuk prognosis keduanya
- Tes IMS lain jika ada indikasi — sifilis dan gonore bisa menyebabkan lesi yang mirip mpox
Di Mana Melakukan Tes di Indonesia?
Jika Anda mencurigai gejala mpox, segera hubungi:
- Puskesmas atau IGD rumah sakit terdekat — jangan datang tanpa menelepon terlebih dahulu; informasikan gejala Anda agar petugas bisa menyiapkan penanganan yang tepat
- Hotline Kementerian Kesehatan RI untuk panduan lebih lanjut
- Jangan pergi sendiri ke fasilitas kesehatan tanpa perlindungan — tutup lesi dengan perban atau pakaian dan gunakan masker untuk melindungi orang lain
Pengobatan: Mengelola Gejala dan Mencegah Komplikasi
Sampai saat ini, belum ada terapi antivirus spesifik yang disetujui secara universal untuk mpox, meskipun beberapa obat antivirus sedang dalam evaluasi atau tersedia dalam kapasitas terbatas. Sebagian besar kasus mpox sembuh sendiri dalam 2–4 minggu dengan perawatan suportif.
Pengobatan Medis
Tecovirimat (TPOXX) Antivirus yang disetujui di Amerika Serikat dan Eropa untuk pengobatan cacar, cacar sapi, dan mpox berat. Bekerja dengan menghambat protein yang diperlukan virus untuk keluar dari sel yang terinfeksi. Direkomendasikan untuk kasus berat dan pasien berisiko tinggi, termasuk individu dengan imunosupresi berat. Ketersediaan di Indonesia masih terbatas dan dalam pengaturan program khusus.
Cidofovir dan Brincidofovir Antivirus lain dengan aktivitas terhadap Orthopoxvirus yang dapat digunakan pada kasus tertentu dengan pertimbangan dokter spesialis.
Vaksin IMVAMUNE / Jynneos (Vaksin Cacar Generasi Ketiga) Meski terutama digunakan untuk pencegahan, vaksin ini dapat diberikan pasca-pajanan (post-exposure prophylaxis) dalam 4 hari setelah kontak — dan masih memberikan manfaat jika diberikan hingga 14 hari setelah paparan untuk meringankan keparahan gejala. Di Indonesia, ketersediaan vaksin ini masih sangat terbatas dan diprioritaskan untuk kelompok risiko tinggi.
Penanganan Gejala
- Parasetamol atau ibuprofen untuk demam dan nyeri
- Antihistamin oral untuk rasa gatal yang mengganggu
- Obat kumur antiseptik dan anestesi lokal untuk lesi di mulut
- Salep atau krim antinyeri untuk lesi yang sangat nyeri
Rawat Inap Diperlukan Jika:
- Nyeri yang tidak terkontrol dengan obat oral
- Lesi di area mata yang mengancam penglihatan
- Superinfeksi bakteri pada lesi kulit (membutuhkan antibiotik)
- Komplikasi pernapasan, neurologis, atau sepsis
- Pasien dengan imunosupresi berat
- Anak-anak kecil atau ibu hamil dengan gejala berat
Perawatan Mandiri di Rumah (Kasus Ringan-Sedang)
Jika dokter memutuskan rawat jalan, lakukan isolasi mandiri yang ketat dan perawatan berikut:
Isolasi yang benar Tetap di rumah dan pisahkan diri dari anggota keluarga lain, terutama yang memiliki faktor risiko. Gunakan kamar dan kamar mandi yang terpisah jika memungkinkan. Isolasi berlanjut hingga semua lesi mengering dan keropeng terakhir lepas — bukan sekadar sampai demam turun.
Perawatan lesi kulit
- Jangan memecahkan vesikel atau pustula — ini meningkatkan risiko infeksi bakteri sekunder dan penyebaran virus
- Bersihkan lesi dengan lembut menggunakan air bersih dan sabun antiseptik
- Jaga lesi tetap kering dan bersih
- Tutup lesi dengan perban atau pakaian longgar untuk mencegah penyebaran virus ke permukaan benda dan orang lain
- Cuci tangan sesering mungkin, terutama setelah menyentuh area yang terinfeksi
Manajemen nyeri dan kenyamanan
- Kompres dingin untuk meredakan ketidaknyamanan di area lesi
- Mandi air hangat dengan baking soda atau oat koloid (oatmeal bath) dapat membantu mengurangi gatal
- Untuk lesi dubur yang nyeri: duduk mandi (sitz bath) beberapa kali sehari dengan air hangat
Nutrisi dan hidrasi
- Perbanyak minum cairan, terutama jika demam
- Konsumsi makanan tinggi protein untuk mendukung penyembuhan jaringan
- Suplemen vitamin C dan zinc dapat mendukung proses pemulihan
Kebersihan lingkungan
- Cuci sprei, handuk, dan pakaian dengan air panas secara terpisah dari anggota keluarga lain
- Disinfeksi permukaan yang sering disentuh dengan disinfektan rumah tangga biasa
- Jangan berbagi peralatan makan, gelas, atau barang pribadi apapun
Pencegahan: Langkah yang Bisa Dilakukan Sekarang
1. Kenali dan Hindari Sumber Pajanan
- Hindari kontak fisik dekat dengan orang yang memiliki ruam, lesi, atau keropeng yang tidak jelas penyebabnya — baik dalam konteks seksual maupun non-seksual
- Hindari kontak dengan hewan liar di daerah endemis, terutama hewan pengerat dan primata yang sakit atau mati
- Jangan konsumsi daging hewan liar (bushmeat) yang tidak dimasak matang sempurna
- Jika Anda adalah tenaga kesehatan: gunakan APD lengkap (sarung tangan, masker, kacamata pelindung, gaun) saat merawat pasien yang dicurigai atau terkonfirmasi mpox
2. Praktikkan Hubungan Seksual yang Lebih Aman
- Diskusikan status kesehatan dengan pasangan seksual baru
- Kurangi jumlah pasangan seksual selama periode wabah aktif
- Gunakan kondom — meski kondom tidak memberikan perlindungan 100% terhadap mpox karena lesi bisa berada di area yang tidak tertutup kondom, penggunaannya tetap mengurangi risiko
- Tunda aktivitas seksual jika Anda atau pasangan memiliki gejala yang mencurigakan hingga pemeriksaan dilakukan
3. Kebersihan Tangan dan Permukaan
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik, terutama setelah kontak dengan seseorang yang sakit atau benda yang mungkin terkontaminasi
- Gunakan hand sanitizer berbasis alkohol jika sabun dan air tidak tersedia
- Bersihkan dan disinfeksi permukaan yang sering disentuh secara rutin
4. Vaksinasi — Untuk Kelompok yang Memenuhi Syarat
Vaksin Jynneos (IMVAMUNE/IMVANEX) dan vaksin cacar lama ACAM2000 terbukti efektif dalam mencegah mpox. Di Indonesia, vaksinasi mpox saat ini diprioritaskan untuk:
- Kelompok risiko tinggi berdasarkan asesmen epidemiologis
- Kontak erat dari kasus yang terkonfirmasi (post-exposure prophylaxis)
- Tenaga kesehatan yang menangani kasus mpox
Konsultasikan dengan dokter atau Dinas Kesehatan setempat mengenai ketersediaan vaksin di wilayah Anda.
5. Deteksi Dini dan Pelaporan
- Jika Anda mengalami ruam atau lesi kulit yang tidak jelas penyebabnya — terutama jika disertai demam dan pembengkakan kelenjar getah bening — segera periksakan diri dan informasikan kepada tenaga kesehatan tentang riwayat kontak Anda
- Jika terdiagnosis mpox, lakukan pelacakan kontak secara jujur agar orang yang mungkin terpapar bisa segera mendapat pemantauan dan profilaksis
Komplikasi yang Perlu Diwaspadai
Meski kebanyakan kasus mpox sembuh tanpa komplikasi serius, beberapa komplikasi dapat terjadi — terutama pada kelompok rentan:
Infeksi bakteri sekunder pada kulit Lesi yang tidak dirawat dengan baik dapat terinfeksi bakteri, menyebabkan selulitis, abses, atau bahkan sepsis.
Mpox okular (mata) Lesi yang menyebar ke mata dapat menyebabkan konjungtivitis, keratitis, dan dalam kasus parah — kebutaan permanen.
Pneumonitis Keterlibatan paru-paru, lebih sering pada individu imunosupresi.
Ensefalitis Radang otak yang dapat menyebabkan kejang, kebingungan, dan koma — komplikasi neurologis yang serius.
Komplikasi pada Kehamilan Mpox selama kehamilan dikaitkan dengan risiko keguguran, kelahiran prematur, bayi lahir mati, dan mpox kongenital pada bayi.
Bekas Luka Permanen Lesi yang dalam, terutama di wajah, dapat meninggalkan jaringan parut yang permanen — dengan dampak psikologis yang tidak boleh diabaikan.
Menghapus Stigma: Mpox Bukan Penyakit “Kelompok Tertentu”
Salah satu dampak paling merusak dari wabah mpox 2022 adalah stigmatisasi yang tidak proporsional terhadap komunitas tertentu. Stigma ini tidak hanya menyakiti mereka yang terdampak, tetapi juga kontraproduktif secara kesehatan masyarakat — karena orang yang merasa takut dihakimi cenderung tidak mau memeriksakan diri, tidak mau mengungkapkan kontak, dan akhirnya justru memperluas penyebaran.
Fakta medisnya jelas: mpox adalah infeksi virus yang dapat menginfeksi siapapun yang memiliki kontak fisik yang cukup dekat dengan penderita atau bahan yang terkontaminasi, tanpa memandang identitas apapun.
Respons yang tepat terhadap mpox adalah respons berbasis fakta ilmiah: mengenali risiko, mengambil tindakan pencegahan yang tepat, dan memastikan akses layanan kesehatan yang setara bagi semua orang yang membutuhkannya.
Penutup: Kenali Lebih Awal, Lindungi Lebih Banyak
Mpox mungkin tidak sepopuler COVID-19 dalam perbincangan sehari-hari. Tapi seperti yang ditunjukkan oleh penetapan darurat kesehatan global WHO pada 2024, ini adalah ancaman yang nyata dan aktif — yang membutuhkan kewaspadaan, bukan kepanikan.
Kunci utamanya sederhana: kenali gejalanya, terutama di fase awal. Demam yang disertai pembengkakan kelenjar getah bening, diikuti ruam dengan lesi yang berkembang secara bertahap — itu adalah pola yang harus memicu kewaspadaan, bukan diabaikan.
Jika Anda mencurigai gejala — pada diri sendiri maupun orang terdekat — jangan tunda. Hubungi fasilitas kesehatan, informasikan riwayat kontak Anda, dan izinkan tenaga medis yang profesional untuk membantu.
Karena dalam kasus mpox, seperti dalam banyak penyakit menular lainnya: semakin cepat dikenali, semakin kecil dampaknya — bagi diri Anda sendiri maupun orang-orang yang Anda sayangi.
Jangan lupa follow media sosial kami:
https://www.instagram.com/klinikfakta?igsh=MTU4ZGg1YjVrZHdhYQ==



