Penyakit Tidak Menular Kanker Payudara: Pemeriksaan Diri Sendiri dan Deteksi Dini yang Mudah Dilakukan

0
11

Penyakit Tidak Menular Kanker Payudara: Pemeriksaan Diri Sendiri dan Deteksi Dini yang Mudah Dilakukan

Pembuka

Sudah pernahkah Anda merasakan benjolan kecil di payudara, atau perubahan bentuk puting susu yang tiba-tiba—dan merasa khawatir tetapi takut untuk memeriksanya ke dokter? Atau sering mendengar cerita orang terdekat yang terkena kanker payudara dan berpikir, “Apakah saya juga berisiko?” Kanker payudara adalah jenis kanker paling umum pada wanita di Indonesia, tetapi banyak orang masih memiliki kesalahpahaman tentangnya—misalnya mengira hanya menyerang orang tua atau mereka yang memiliki riwayat keluarga. Banyak kasus terdeteksi terlambat karena kurangnya kesadaran tentang pemeriksaan diri sendiri, sehingga mengurangi peluang penyembuhan. Tetapi apa jika kita bisa mempelajari cara pemeriksaan diri sendiri yang mudah dan memahami pentingnya deteksi dini—sehingga bisa melindungi diri dari risiko kanker payudara yang mengkhawatirkan ini?

Apa Itu Kanker Payudara?

Kanker payudara adalah penyakit di mana sel-sel di payudara tumbuh secara tidak terkendali dan membentuk tumor. Tumor bisa bersifat jinak (tidak berbahaya) atau ganas (berbahaya, bisa menyebar ke bagian tubuh lain yang disebut metastase). Kanker payudara biasanya muncul di saluran menyusui (lobulus atau saluran) atau jaringan ikat payudara.

Meskipun lebih sering menyerang wanita, pria juga bisa terkena kanker payudara—meskipun kasusnya sangat jarang (sekitar 1% dari total kasus). Kanker payudara yang terdeteksi pada tahap awal memiliki peluang penyembuhan yang sangat tinggi, sehingga deteksi dini sangat penting.

Penyebab dan Faktor Risikonya

  • Penyebab utama: Belum sepenuhnya diketahui, tetapi dipercaya adalah kombinasi antara faktor genetika, hormon, dan gaya hidup. Perubahan (mutasi) pada gen tertentu (seperti gen BRCA1 atau BRCA2) bisa meningkatkan risiko kanker payudara secara signifikan.
  • Faktor risiko yang tidak bisa dikendalikan:
  • Usia: Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 50 tahun.
  • Jenis kelamin: Wanita lebih berisiko daripada pria.
  • Riwayat keluarga: Orang dengan anggota keluarga dekat (ibu, saudara perempuan, anak perempuan) yang menderita kanker payudara memiliki risiko yang lebih tinggi.
  • Riwayat kanker payudara di satu sisi: Memiliki kanker payudara di satu payudara meningkatkan risiko terkena di payudara lain.
  • Riwayat penyakit payudara jinak: Beberapa jenis penyakit payudara jinak (seperti hiperplasia lobulus) bisa meningkatkan risiko.
  • Kehamilan dan menyusui: Wanita yang tidak pernah hamil, hamil untuk pertama kalinya setelah usia 30 tahun, atau tidak menyusui memiliki risiko yang sedikit lebih tinggi.
  • Menopause: Wanita yang mengalami menopause setelah usia 55 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi.
  • Faktor risiko yang bisa dikendalikan:
  • Kelebihan berat badan atau obesitas: Khususnya setelah menopause.
  • Kurangnya aktivitas fisik.
  • Konsumsi alkohol berlebih.
  • Mengonsumsi kontrasepsi oral atau terapi hormon pasca-menopause (dengan konsultasi dokter): Bisa meningkatkan risiko sementara.
  • Eksposisi sinar matahari yang berlebih atau radiasi: Khususnya pada usia muda.
  • Merokok: Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara merokok dan risiko kanker payudara.

Gejala-Gejala Kanker Payudara

Gejala kanker payudara bervariasi antar orang, dan beberapa pasien bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali (terdeteksi melalui pemeriksaan rutin). Tanda-tanda yang perlu diperhatikan adalah:

1. Benjolan atau massa di payudara atau ketiak: Biasanya tidak menyakitkan, tetapi bisa sedikit nyeri.
2. Perubahan bentuk atau ukuran payudara: Satu payudara bisa lebih besar atau lebih condong daripada yang lain.
3. Perubahan pada puting susu: Puding susu bisa masuk ke dalam, berubah bentuk, atau berwarna.
4. Keluar cairan dari puting susu: Selain air susu, seperti cairan bening, kemerahan, atau berdarah.
5. Perubahan pada kulit payudara: Kulit bisa terlihat seperti kulit jeruk, kemerahan, atau mengelupas.
6. Nyeri atau rasa terbakar di payudara atau puting susu: Meskipun jarang, bisa menjadi gejala.
7. Pembengkakan atau perubahan pada ketiak: Seperti benjolan atau perubahan kulit di ketiak.

Perlu diingat bahwa tidak semua benjolan di payudara adalah kanker—banyak di antaranya adalah jinak (seperti kista atau fibroma). Namun, penting untuk memeriksanya ke dokter segera jika menemukan tanda-tanda di atas.

Proses Diagnosis

Untuk mendiagnosis kanker payudara, dokter akan melakukan langkah-langkah berikut:

1. Anamnesis: Menanya gejala, riwayat keluarga, riwayat kesehatan, dan gaya hidup.
2. Pemeriksaan fisik: Memeriksa payudara, ketiak, dan dada untuk mencari benjolan, perubahan bentuk, atau tanda-tanda lain.
3. Tes penunjang:

  • Mammografi: Pemeriksaan rontgen payudara untuk mendeteksi tumor yang terlalu kecil untuk diraba.
  • Ultrasonografi payudara: Menggunakan gelombang suara untuk membedakan antara benjolan padat dan cairan (kista).
  • Biopsi: Prosedur utama untuk mendiagnosis kanker—dokter akan mengambil sampel jaringan dari benjolan untuk diperiksa di bawah mikroskop.
  • MRI payudara: Lebih akurat untuk mendeteksi kanker pada pasien yang berisiko tinggi.
  • Tes darah: Untuk memeriksa kadar protein yang terkait dengan kanker payudara (jika diperlukan).

Setelah diagnosis ditegakkan, dokter akan menentukan tahap kanker berdasarkan ukuran tumor, apakah menyebar ke kelenjar getah bening, dan apakah metastase.

Pilihan Pengobatan

Pengobatan kanker payudara tergantung pada tahap kanker, jenis kanker, dan kondisi pasien. Pilihan pengobatan meliputi:

  1. Pengobatan medis dan bedah
  • Bedah:
  • Lumpektomi: Menghapus tumor dan sebagian jaringan sekitarnya (tanpa menghapus seluruh payudara).
  • Mastektomi: Menghapus seluruh payudara (kadang juga kelenjar getah bening di ketiak).
  • Radiasi: Memberikan sinar radiasi ke area payudara untuk membunuh sel kanker yang tersisa setelah bedah.
  • Kemoterapi: Memberikan obat kimia untuk membunuh sel kanker, bisa diberikan sebelum atau setelah bedah.
  • Terapi hormon: Digunakan jika kanker tergantung hormon estrogen atau progesteron, untuk mencegah pertumbuhan sel kanker.
  • Terapi target: Obat yang menargetkan sel kanker tertentu (misalnya untuk kanker dengan gen HER2 positif).
  • Imunoterapi: Meningkatkan sistem imun tubuh untuk melawan sel kanker.
  1. Pengobatan mandiri (pendukung)
  • Ikuti rencana pengobatan dokter: Tetap teratur dalam meminum obat atau menghadiri sesi radiasi/kemoterapi.
  • Jaga kesehatan tubuh: Makan makanan sehat (kaya buah, sayuran, dan protein rendah lemak), olahraga teratur, dan tidur cukup.
  • Kelola stres: Gunakan teknik seperti meditasi, pernapasan dalam, atau bergabung dengan grup dukungan.
  • Jaga kebersihan luka: Jika melakukan bedah, jaga luka tetap bersih untuk mencegah infeksi.
  • Komunikasi dengan dokter: Laporkan segera jika mengalami efek samping atau perubahan kondisi.
  1. Pengobatan alternatif (dengan konsultasi dokter)
  • Terapi akupuntur: Meredakan nyeri dan efek samping kemoterapi seperti mual.
  • Terapi seni atau musik: Membantu mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati.
  • Makanan fungsional: Seperti teh hijau, kurkuma, atau bawang putih yang dipercaya memiliki efek anti-kanker (tetapi tidak boleh menggantikan pengobatan medis).

Pemeriksaan Diri Sendiri dan Deteksi Dini

Deteksi dini adalah kunci untuk penyembuhan kanker payudara. Terdapat tiga cara deteksi dini:

  1. Pemeriksaan diri sendiri (PDS)

Pemeriksaan diri sendiri bisa dilakukan setiap bulan, 7-10 hari setelah menstruasi (untuk wanita yang masih menstruasi) atau pada hari yang sama setiap bulan (untuk wanita pasca-menopause atau pria). Cara melakukannya:

  • Duduk atau berdiri di depan cermin: Periksa kedua payudara untuk melihat perubahan bentuk, ukuran, kulit, atau puting susu. Angkat lengan ke atas dan ulangi pemeriksaan.
  • Berbaring tertelentang: Letakkan bantal di bawah pinggul satu sisi, dan letakkan tangan sisi yang sama di atas kepala. Gunakan jari-jari tangan lain untuk meraba payudara secara melingkar, mulai dari bagian luar hingga ke puting susu. Periksa juga ketiak dan area dada. Ulangi pada sisi lain.
  • Berdiri atau berdiri miring: Gunakan jari-jari untuk meraba payudara dan ketiak lagi, untuk memastikan tidak ada benjolan yang terlewatkan.

Jika menemukan perubahan apa pun, segera periksa ke dokter.

  1. Pemeriksaan oleh dokter

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik payudara secara teratur, setidaknya sekali setahun untuk wanita di atas usia 40 tahun atau yang berisiko tinggi.

  1. Pemeriksaan penunjang (mammografi)

Disarankan untuk wanita di atas usia 40 tahun melakukan mammografi setidaknya sekali setiap 2 tahun. Wanita yang berisiko tinggi bisa melakukan mammografi lebih awal atau lebih sering, sesuai anjuran dokter.

Pencegahan dan Tips Hidup Sehat

Meskipun kanker payudara tidak selalu bisa dicegah, langkah-langkah berikut bisa membantu mengurangi risiko:

1. Lakukan pemeriksaan diri sendiri secara teratur: Setiap bulan.
2. Ikuti jadwal pemeriksaan rutin: Pemeriksaan oleh dokter dan mammografi sesuai anjuran.
3. Jaga berat badan ideal: Kurangi berat badan jika kelebihan berat badan.
4. Olahraga teratur: Minimal 150 menit per minggu dengan aktivitas fisik ringan hingga sedang.
5. Kurangi konsumsi alkohol: Batasan maksimal 1 gelas per hari untuk wanita dan 2 gelas per hari untuk pria.
6. Hindari merokok.
7. Pikirkan tentang kehamilan dan menyusui: Menyusui selama minimal 6 bulan bisa mengurangi risiko.
8. Hindari eksposisi radiasi atau sinar matahari berlebih: Khususnya pada usia muda.
9. Pemeriksaan gen (jika berisiko tinggi): Jika ada riwayat keluarga yang kuat, konsultasikan dengan dokter tentang pemeriksaan gen BRCA1 atau BRCA2.

Penutup

Kanker payudara adalah penyakit yang mengkhawatirkan, tetapi dengan kesadaran yang tepat tentang gejala, pemeriksaan diri sendiri, dan deteksi dini, peluang penyembuhan sangat tinggi. Jangan biarkan rasa takut atau malu mencegah Anda memeriksakan diri ke dokter—setiap perubahan pada payudara perlu diperiksa segera. Pemeriksaan diri sendiri adalah langkah yang mudah dan murah yang bisa Anda lakukan setiap bulan untuk melindungi diri. Ingat, deteksi dini tidak hanya menyelamatkan nyawa tetapi juga memungkinkan pengobatan yang lebih sederhana dan meningkatkan kualitas hidup.

Jangan lupa follow media sosial kami…

https://www.instagram.com/klinikfakta?igsh=MTU4ZGg1YjVrZHdhYQ==