
“Ah, Cuma Gigitan Anjing Kecil — Tidak Apa-Apa”
Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin pernah Anda ucapkan sendiri, atau dengar dari orang di sekitar Anda.
Seorang anak bermain di halaman, seekor anjing tetangga mendekat, lalu menggigit tangan kecilnya. Lukanya tidak dalam. Darahnya tidak terlalu banyak. Orang tua membersihkannya dengan air, menempelkan plester, dan mengira semuanya sudah selesai.
Namun beberapa minggu kemudian, anak itu mulai gelisah dan tidak bisa tidur. Ia mengeluh tenggorokannya terasa aneh dan tidak mau minum air padahal haus. Kejang mulai terjadi. Tubuhnya tidak lagi bisa dikendalikan.
Pada titik itu, sudah terlambat. Karena rabies yang telah mencapai otak hampir selalu berakhir dengan kematian — dengan tingkat case fatality rate yang mendekati 100%.
Inilah yang membuat rabies berbeda dari penyakit lain: bukan karena gejalanya dramatis di awal, melainkan justru karena ia tidak terasa apa-apa di awal — sementara virus sudah diam-diam bergerak menuju otak. Dan begitu gejala muncul, hampir tidak ada yang bisa dilakukan.
Artikel ini hadir bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk memastikan Anda tahu persis apa yang harus dilakukan jika gigitan terjadi — karena dalam kasus rabies, waktu dan tindakan yang tepat benar-benar bisa membedakan antara hidup dan mati.
Apa Itu Rabies?
Rabies adalah penyakit infeksi virus akut yang menyerang sistem saraf pusat — otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini disebabkan oleh virus Rabies dari genus Lyssavirus, famili Rhabdoviridae.
Rabies termasuk dalam kategori zoonosis — penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Hampir semua kasus rabies pada manusia bermula dari gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi.
Yang membuat rabies begitu menakutkan secara medis adalah kombinasi dari dua sifatnya yang bertolak belakang:
Pertama, masa inkubasinya panjang — virus bisa “tidur” di dalam tubuh selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sebelum mencapai otak, memberi jendela waktu yang cukup lebar untuk pencegahan.
Kedua, begitu gejala klinis muncul, hampir tidak ada penyelamatan yang bisa dilakukan — karena pada titik itu virus sudah merusak jaringan otak secara masif.
Di seluruh dunia, rabies menyebabkan sekitar 59.000 kematian setiap tahunnya, dengan lebih dari 95% kasus terjadi di Asia dan Afrika. Indonesia termasuk negara endemis rabies, dengan beberapa provinsi yang masih melaporkan kasus secara aktif setiap tahunnya.
Penyebab dan Cara Penularan
Sumber Penularan
Hewan yang paling sering menjadi sumber penularan rabies ke manusia adalah:
- Anjing — bertanggung jawab atas lebih dari 99% kasus rabies pada manusia di seluruh dunia, termasuk Indonesia
- Kucing — lebih jarang, tetapi tetap menjadi risiko
- Monyet, kelelawar, rubah, rakun, sigung — berperan signifikan di berbagai wilayah tertentu
- Hewan ternak (sapi, kambing, kuda) — bisa terinfeksi, tetapi jarang menjadi sumber penularan utama ke manusia
Bagaimana Virus Masuk ke Tubuh?
Virus rabies terkandung dalam air liur hewan yang terinfeksi. Penularan terjadi melalui:
- Gigitan — cara penularan paling umum dan paling signifikan. Gigi hewan yang terinfeksi membawa virus dari air liurnya langsung ke dalam jaringan tubuh manusia
- Cakaran yang kemudian bersentuhan dengan air liur hewan tersebut
- Jilatan hewan terinfeksi pada luka terbuka, selaput lendir, atau kulit yang lecet — ini sering diabaikan padahal tetap berisiko
- Paparan selaput lendir (mata, hidung, mulut) terhadap air liur hewan yang terinfeksi
Rabies tidak menular melalui kontak biasa seperti menyentuh bulu hewan sehat, menghirup udara, atau memakan daging hewan yang dimasak matang.
Bagaimana Virus Bekerja di Dalam Tubuh?
Setelah masuk melalui luka, virus rabies tidak langsung menyebar lewat darah. Sebaliknya, ia menginfeksi sel saraf di dekat luka dan bergerak perlahan sepanjang serabut saraf menuju sumsum tulang belakang dan otak. Perjalanan ini bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan — dan selama perjalanan ini, tubuh belum menunjukkan gejala apapun.
Kecepatan virus mencapai otak sangat bergantung pada lokasi gigitan. Gigitan di wajah, leher, atau kepala lebih berbahaya karena jarak ke otak lebih pendek, sehingga masa inkubasi bisa jauh lebih singkat.
Faktor Risiko: Siapa yang Paling Rentan?
Semua orang bisa terkena rabies jika digigit atau dicakar hewan yang terinfeksi. Namun risiko lebih tinggi pada:
Anak-anak usia 5–14 tahun Kelompok usia ini paling banyak berinteraksi dengan hewan dan paling sering tidak melaporkan gigitan kepada orang dewasa, baik karena takut dimarahi maupun karena tidak menganggapnya serius.
Orang yang tinggal atau bepergian ke daerah endemis rabies Beberapa provinsi di Indonesia seperti Bali (meski sudah dinyatakan bebas rabies tahun 2023 setelah upaya besar), Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Papua masih termasuk daerah yang perlu diwaspadai. Wisatawan yang mengunjungi daerah endemis tanpa vaksinasi pra-paparan juga berisiko.
Pekerja yang sering berinteraksi dengan hewan Dokter hewan, petugas karantina hewan, pawang hewan, dan peneliti yang bekerja dengan hewan liar memiliki risiko paparan yang lebih tinggi dari populasi umum.
Orang yang memelihara hewan tanpa vaksinasi rutin Hewan peliharaan yang tidak divaksinasi rabies secara rutin menjadi risiko bagi pemiliknya jika hewan tersebut kemudian terinfeksi.
Gejala Rabies: Dari Tanpa Keluhan Hingga Fatal
Perjalanan rabies pada manusia melewati beberapa tahap yang khas.
Tahap 1 — Masa Inkubasi (2 minggu hingga 3 bulan, terkadang lebih lama)
Tidak ada gejala apapun. Seseorang tampak sehat sepenuhnya. Virus sedang dalam perjalanan menuju otak. Ini adalah jendela emas untuk tindakan pencegahan.
Tahap 2 — Gejala Prodromal (2–10 hari)
Gejala awal rabies sangat tidak spesifik dan mudah disalahartikan sebagai flu biasa atau kelelahan:
- Demam ringan hingga sedang
- Sakit kepala dan pusing
- Mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan
- Kelelahan yang tidak biasa
- Gejala khas yang penting: rasa gatal, kesemutan, atau terbakar di area bekas luka gigitan — ini adalah tanda awal yang sangat signifikan dan tidak boleh diabaikan
Tahap 3 — Fase Neurologis Akut (2–7 hari)
Ini adalah saat virus sudah mencapai otak dan sistem saraf mulai mengalami kerusakan. Rabies pada fase ini muncul dalam dua bentuk klinis:
Rabies Furiosa (Ensefalitik) — sekitar 80% kasus:
- Hiperaktivitas, agitasi, dan kebingungan ekstrem
- Hidrofobia — ketakutan ekstrem terhadap air, bahkan suara atau pemandangan air bisa memicu kejang pada tenggorokan. Ini adalah gejala paling ikonik dan paling khas dari rabies
- Aerofobia — ketakutan terhadap hembusan angin atau udara
- Halusinasi dan perilaku agresif
- Kejang berulang
- Air liur berlebihan (hipersalivasi)
- Kelumpuhan parsial
Rabies Paralitik (Dumb Rabies) — sekitar 20% kasus:
- Kelemahan otot yang dimulai dari area gigitan dan menyebar ke seluruh tubuh
- Kelumpuhan progresif
- Lebih jarang menunjukkan hidrofobia, sehingga lebih sering salah diagnosis
- Berkembang lebih lambat, tetapi sama fatalnya
Tahap 4 — Koma dan Kematian
Tanpa intervensi agresif, pasien jatuh ke dalam koma dalam hitungan hari setelah gejala neurologis muncul, dan kematian biasanya terjadi akibat gagal napas dalam 7–10 hari.
Diagnosis Rabies
Sayangnya, tidak ada tes yang dapat mendiagnosis rabies sebelum gejala muncul pada manusia yang masih hidup. Inilah salah satu alasan mengapa tindakan pencegahan setelah gigitan (post-exposure prophylaxis) tidak boleh ditunda menunggu hasil tes.
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Pada hewan yang menggigit: Jika hewan dapat ditangkap, pemeriksaan jaringan otak hewan (biasanya setelah mati) dengan metode direct fluorescent antibody (DFA) adalah cara tercepat dan paling akurat. Hasil ini membantu menentukan apakah seseorang perlu menjalani profilaksis pasca-pajanan.
Pada manusia (saat gejala sudah muncul): Beberapa pemeriksaan dapat dilakukan, antara lain:
- Biopsi kulit dari area tengkuk (untuk menemukan antigen virus rabies di sekitar folikel rambut)
- Tes air liur atau cairan serebrospinal menggunakan RT-PCR
- Pemeriksaan serum darah dan cairan serebrospinal untuk mendeteksi antibodi rabies
Diagnosis sering baru dikonfirmasi setelah pasien meninggal, melalui pemeriksaan jaringan otak yang menunjukkan adanya badan Negri (Negri bodies) — inklusi khas virus rabies di dalam sel saraf.
Penanganan: Respons Cepat Adalah Segalanya
Dalam kasus rabies, ada dua skenario yang perlu dipahami dengan jelas: tindakan segera setelah gigitan (sebelum gejala muncul), dan penanganan jika gejala sudah terlanjur muncul.
A. Pertolongan Pertama Segera Setelah Gigitan
Ini adalah langkah terpenting dan harus dilakukan dalam menit-menit pertama:
1. Cuci luka segera dan menyeluruh Cuci luka gigitan dengan air mengalir yang bersih dan sabun selama minimal 15 menit penuh. Ini bukan sekadar formalitas — pencucian yang benar terbukti secara ilmiah dapat mengurangi risiko infeksi secara signifikan dengan membuang partikel virus secara mekanis dari luka.
2. Aplikasikan antiseptik Setelah dicuci, oleskan antiseptik seperti povidon-iodine (betadine), alkohol 70%, atau klorheksidin pada luka.
3. Jangan menutup luka terlalu rapat Jangan menjahit luka secara langsung — biarkan sedikit terbuka untuk mengurangi risiko virus terperangkap di dalam jaringan.
4. Segera ke fasilitas kesehatan Ini wajib dilakukan, tidak peduli seberapa kecil luka gigitannya.
B. Profilaksis Pasca-Pajanan (Post-Exposure Prophylaxis / PEP)
PEP adalah serangkaian tindakan medis yang diberikan setelah seseorang terpapar atau berpotensi terpapar virus rabies. Jika diberikan dengan benar dan tepat waktu sebelum gejala muncul, PEP hampir 100% efektif mencegah rabies.
PEP terdiri dari dua komponen utama:
1. Vaksin Rabies (VAR — Vaksin Anti Rabies) Diberikan dalam serangkaian suntikan pada hari ke-0, 3, 7, dan 14 (beberapa protokol menambahkan dosis ke-28). Vaksin merangsang sistem imun untuk memproduksi antibodi melawan virus rabies.
2. Serum Anti Rabies (SAR) / Rabies Immunoglobulin (RIG) Diberikan pada luka dan secara sistemik pada kasus gigitan kategori tinggi (gigitan dalam, di kepala/leher/tangan, atau oleh hewan yang sangat dicurigai terinfeksi). SAR memberikan perlindungan segera (pasif) sementara tubuh belum sempat membentuk antibodi dari vaksin.
Kategori risiko gigitan menurut WHO:
| Kategori | Deskripsi | Tindakan |
| I | Menyentuh atau memberi makan hewan, jilatan pada kulit utuh | Cuci tangan; tidak perlu PEP |
| II | Gigitan ringan tanpa darah, cakaran superfisial, jilatan pada kulit tidak utuh | Cuci luka + vaksin rabies |
| III | Gigitan dalam menembus kulit, cakaran berdarah, jilatan pada selaput lendir, paparan pada kepala/leher/tangan | Cuci luka + vaksin rabies + SAR/RIG |
C. Penanganan Jika Gejala Sudah Muncul
Jika gejala klinis rabies sudah timbul, pilihan pengobatan sangat terbatas. Penanganan yang dilakukan bersifat paliatif — bertujuan menjaga kenyamanan pasien, bukan menyembuhkan:
- Perawatan di unit intensif (ICU)
- Sedasi untuk mengurangi agitasi dan kejang
- Ventilator mekanis jika terjadi gagal napas
- Manajemen nyeri dan cairan
Ada satu protokol eksperimental yang disebut Milwaukee Protocol yang pernah berhasil pada beberapa kasus sangat langka — namun tingkat keberhasilannya masih sangat rendah dan tidak bisa diandalkan sebagai terapi standar.
Pencegahan: Tiga Lapis Perlindungan
Lapis 1 — Vaksinasi Hewan Peliharaan
Ini adalah fondasi pencegahan rabies. Anjing dan kucing peliharaan harus divaksinasi rabies secara rutin oleh dokter hewan yang berwenang. Di Indonesia, vaksinasi hewan peliharaan terhadap rabies wajib dilakukan dan sering tersedia melalui program pemerintah daerah.
Jika Anda memiliki anjing atau kucing, pastikan kartu vaksinasi hewannya selalu diperbarui. Ini bukan hanya melindungi hewan Anda — ini melindungi seluruh keluarga dan komunitas Anda.
Lapis 2 — Vaksinasi Pra-Pajanan untuk Kelompok Berisiko Tinggi
Bagi orang-orang yang pekerjaannya atau aktivitasnya melibatkan risiko tinggi terpapar rabies — dokter hewan, petugas karantina, peneliti, pecinta alam yang sering masuk hutan — vaksinasi rabies sebelum terpapar (pre-exposure prophylaxis / PrEP) sangat dianjurkan.
Vaksinasi pra-pajanan biasanya diberikan dalam 3 dosis (hari 0, 7, dan 21 atau 28), dan memberikan dasar kekebalan sehingga jika suatu saat terpapar, PEP yang diperlukan lebih sederhana dan efektif lebih cepat.
Lapis 3 — Edukasi dan Kewaspadaan Sehari-hari
- Ajarkan anak-anak untuk tidak mendekati, mengganggu, atau memberi makan hewan liar atau hewan yang tidak dikenal — terutama hewan yang tampak berperilaku tidak normal (agresif tanpa sebab, atau sebaliknya terlalu jinak)
- Kenali tanda hewan yang mungkin terinfeksi rabies: berjalan tidak beraturan, mengeluarkan air liur berlebihan, perubahan perilaku drastis (hewan liar yang tidak takut manusia, atau hewan jinak yang tiba-tiba agresif)
- Laporkan hewan liar atau terlantar yang mencurigakan kepada dinas terkait — jangan mencoba menanganinya sendiri
- Jangan pernah meremehkan gigitan hewan, sekecil apapun lukanya. Segera bersihkan dan konsultasikan ke dokter
Tips Hidup Sehat Berdampingan dengan Hewan
- Rutin vaksinasi semua hewan peliharaan, bukan hanya anjing dan kucing
- Jangan biarkan hewan peliharaan berkeliaran tanpa pengawasan, terutama di daerah endemis
- Gunakan sarung tangan saat merawat hewan yang sakit atau terluka
- Jika Anda bekerja dengan kelelawar atau hewan liar, selalu gunakan alat pelindung diri yang memadai
- Pastikan anak-anak selalu melapor kepada orang dewasa jika digigit atau dicakar hewan apapun
Mengapa Masih Banyak yang Meremehkan Gigitan Hewan?
Ada beberapa alasan mengapa respons terhadap gigitan hewan sering tidak memadai di masyarakat:
Mitos “hewan saya jinak dan sehat” — kenyataannya, hewan yang tampak sehat bisa saja dalam masa inkubasi rabies dan menularkan virus tanpa menunjukkan gejala apapun.
Mitos “lukanya kecil, tidak mungkin berbahaya” — virus rabies hanya membutuhkan jalur masuk yang sangat kecil untuk menginfeksi sistem saraf.
Mitos “sudah dicuci dengan alkohol, pasti aman” — pencucian dengan antiseptik saja tidak cukup. Vaksin dan SAR tetap diperlukan sesuai kategori risiko.
Akses vaksin yang terbatas di daerah terpencil — ini adalah tantangan nyata yang masih dihadapi Indonesia, terutama di wilayah endemis yang justru paling membutuhkan akses cepat ke PEP.
Memahami mitos-mitos ini dan menggantinya dengan fakta medis yang benar bisa benar-benar menyelamatkan nyawa.
Penutup: Satu Gigitan, Satu Keputusan yang Menentukan
Rabies adalah salah satu penyakit paling mematikan yang dikenal manusia — tetapi juga salah satu yang paling bisa dicegah.
Antara gigitan pertama dan kematian, ada jendela waktu berharga. Di dalam jendela itulah — dengan pertolongan pertama yang benar, vaksin yang tepat, dan serum yang diberikan pada waktunya — sebuah nyawa bisa diselamatkan sepenuhnya.
Jangan biarkan kalimat “ah, tidak apa-apa” menjadi kalimat yang Anda sesali.
Jika digigit hewan, apapun kondisinya: cuci lukanya segera, dan pergi ke dokter atau Puskesmas tanpa tunda. Itu saja. Sesederhana itu — dan sepenyelamat itu.
Jangan lupa follow media sosial kami:
https://www.instagram.com/klinikfakta?igsh=MTU4ZGg1YjVrZHdhYQ==



