- Advertisement -Newspaper WordPress Theme
Penyakit Tidak MenularSindrom Guillain–Barré Kronis: Ketika Sistem Imun Menyerang Saraf Tubuh Sendiri

Sindrom Guillain–Barré Kronis: Ketika Sistem Imun Menyerang Saraf Tubuh Sendiri

Bayangkan tubuh yang awalnya sehat mendadak terasa lemah. Kaki sulit digerakkan, tangan seperti kehilangan tenaga, bahkan berjalan beberapa langkah saja menjadi hal yang berat. Banyak orang mengira kelelahan atau kurang nutrisi sebagai penyebabnya, padahal bisa jadi tubuh sedang diserang oleh sistem imun sendiri — kondisi yang dikenal sebagai Sindrom Guillain–Barré Kronis atau Chronic Inflammatory Demyelinating Polyneuropathy (CIDP).

Kondisi ini termasuk gangguan autoimun langka yang menyerang saraf tepi, menyebabkan kelemahan otot dan gangguan sensorik. Jika tidak segera ditangani, CIDP dapat berkembang perlahan dan menurunkan kualitas hidup penderitanya secara signifikan.

Apa Itu Sindrom Guillain–Barré Kronis (CIDP)?

Sindrom Guillain–Barré Kronis (CIDP) adalah gangguan autoimun di mana sistem kekebalan tubuh salah mengenali saraf tepi sebagai ancaman dan menyerangnya. Akibatnya, lapisan pelindung saraf yang disebut mielin mengalami peradangan dan kerusakan.

Kerusakan pada mielin membuat sinyal listrik yang dikirim dari otak ke otot menjadi terganggu, sehingga tubuh kehilangan koordinasi dan kekuatan. Berbeda dengan Sindrom Guillain–Barré Akut (GBS) yang berkembang cepat dalam hitungan minggu, CIDP berkembang secara perlahan dan dapat berlangsung lebih dari 8 minggu atau bahkan bertahun-tahun.

Penyebab dan Faktor Risiko

Hingga kini, penyebab pasti CIDP belum sepenuhnya dipahami. Namun, kondisi ini diduga kuat dipicu oleh reaksi autoimun abnormal, di mana sistem imun menyerang jaringan saraf setelah infeksi atau pemicu tertentu.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya CIDP meliputi:

  • Riwayat infeksi virus atau bakteri, seperti Campylobacter jejuni atau virus Epstein-Barr.
  • Penyakit autoimun lain, misalnya lupus atau rheumatoid arthritis.
  • Riwayat Guillain–Barré akut sebelumnya.
  • Usia paruh baya hingga lanjut (40–60 tahun).
  • Jenis kelamin pria sedikit lebih berisiko dibanding wanita.

Meski jarang, CIDP juga dapat muncul tanpa penyebab yang jelas (idiopatik).

Gejala-Gejala yang Perlu Diwaspadai

CIDP biasanya berkembang secara perlahan dalam hitungan minggu atau bulan. Gejalanya bisa ringan di awal dan bertambah berat seiring waktu. Berikut tanda-tanda yang umum muncul:

  • Kelemahan otot progresif pada kaki dan tangan.
  • Kesemutan, mati rasa, atau rasa terbakar di tangan dan kaki.
  • Kehilangan refleks (misalnya lutut tidak lagi bereaksi saat diketuk).
  • Kesulitan berjalan atau menjaga keseimbangan.
  • Otot terasa kaku atau berat digerakkan.
  • Kelelahan kronis dan mudah lemas.

Pada beberapa kasus berat, CIDP juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan atau kesulitan menelan, meskipun hal ini jarang terjadi.

Bagaimana Proses Diagnosisnya?

Diagnosis CIDP membutuhkan pemeriksaan menyeluruh karena gejalanya mirip dengan penyakit saraf lainnya. Dokter saraf akan melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Wawancara medis dan pemeriksaan fisik, untuk menilai kelemahan otot dan pola gejala.
  2. Studi konduksi saraf (Nerve Conduction Study), guna melihat seberapa cepat sinyal listrik berjalan di saraf.
  3. Elektromiografi (EMG), untuk menilai aktivitas listrik otot.
  4. Pungsi lumbal (lumbar puncture), guna memeriksa kadar protein dalam cairan serebrospinal.
  5. MRI saraf tepi atau tulang belakang, untuk melihat adanya peradangan atau pembengkakan saraf.

Diagnosis yang tepat sangat penting agar pasien tidak salah ditangani, karena pengobatan CIDP berbeda dengan penyakit saraf akibat kekurangan vitamin atau cedera biasa.

Pilihan Pengobatan

Tujuan utama pengobatan adalah mengendalikan peradangan, mencegah kerusakan saraf lebih lanjut, dan memulihkan fungsi otot. Penanganan dilakukan dengan pendekatan jangka panjang, meliputi:

1. Terapi Medis

  • Kortikosteroid (prednison): untuk menekan aktivitas sistem imun.
  • IVIg (Intravenous Immunoglobulin): terapi infus antibodi yang menetralkan sistem imun berlebihan.
  • Plasmaferesis (plasmapheresis): prosedur yang menyaring antibodi penyebab kerusakan saraf dari darah.
  • Obat imunosupresif (azathioprine, cyclosporine, atau rituximab): digunakan jika terapi awal tidak efektif.

2. Terapi Rehabilitasi

Fisioterapi dan terapi okupasi sangat penting untuk membantu:

  • Mengembalikan kekuatan otot.
  • Meningkatkan keseimbangan dan koordinasi.
  • Membantu pasien kembali mandiri dalam aktivitas harian.

3. Pendekatan Mandiri dan Dukungan Emosional

  • Istirahat cukup dan hindari aktivitas berlebihan.
  • Kelola stres karena stres kronis dapat memperburuk gejala.
  • Dukungan keluarga dan komunitas pasien CIDP juga penting agar penderita tidak merasa terisolasi.

Tidak ada pengobatan alternatif yang terbukti menyembuhkan CIDP, namun terapi tambahan seperti akupunktur atau relaksasi otot ringan dapat membantu mengurangi ketegangan dan meningkatkan kenyamanan.

Cara Pencegahan dan Tips Hidup Sehat

Karena penyebab pasti CIDP belum diketahui, pencegahan spesifik sulit dilakukan, namun beberapa langkah berikut bisa membantu menjaga kesehatan saraf dan memperlambat progres penyakit:

  • Jaga daya tahan tubuh dengan pola makan bergizi seimbang.
  • Konsumsi cukup vitamin B kompleks dan makanan kaya antioksidan.
  • Rutin berolahraga ringan sesuai kemampuan tubuh.
  • Hindari infeksi dengan menjaga kebersihan dan vaksinasi yang dianjurkan.
  • Periksa kesehatan secara berkala, terutama jika memiliki riwayat penyakit autoimun.

Sindrom Guillain–Barré Kronis (CIDP) adalah gangguan autoimun yang dapat melemahkan saraf dan otot secara perlahan. Meskipun tergolong penyakit langka, kondisi ini bisa dikendalikan dengan pengobatan yang tepat dan dukungan terapi jangka panjang.

Jika Anda atau orang terdekat mulai mengalami kelemahan otot, kesemutan, atau mati rasa yang berlangsung lebih dari beberapa minggu, jangan menunda konsultasi dengan dokter saraf. Penanganan dini dapat membantu mempercepat pemulihan dan mencegah kerusakan saraf yang lebih berat.

Sering merasakan nyeri tajam tiba-tiba di wajah seperti tersengat listrik? Bisa jadi itu Neuralgia Trigeminal, gangguan saraf wajah yang menyebabkan nyeri hebat — baca artikel ini untuk mengenali penyebab dan cara mengatasinya! https://rumahsakit.uk/neuralgia-trigeminal-gangguan-saraf-wajah-penyebab-nyeri-hebat/

Subscribe Today

GET EXCLUSIVE FULL ACCESS TO PREMIUM CONTENT

SUPPORT NONPROFIT JOURNALISM

EXPERT ANALYSIS OF AND EMERGING TRENDS IN CHILD WELFARE AND JUVENILE JUSTICE

TOPICAL VIDEO WEBINARS

Get unlimited access to our EXCLUSIVE Content and our archive of subscriber stories.

Exclusive content

- Advertisement -Newspaper WordPress Theme

Latest article

More article

- Advertisement -Newspaper WordPress Theme